Makin Menumpuk, Utang Pelajar Ancam Pertumbuhan Ekonomi AS

Pelajar di Luar Negri - www.republika.co.idPelajar di Luar Negri - www.republika.co.id

NEW YORK – Total pinjaman yang dilakukan siswa maupun yang studi di AS dilaporkan meningkat tajam pada tahun 2018. Utang para pelajar ini menjadi tumpukan utang terbesar kedua di Negeri Paman Sam setelah hipotek. Sejumlah analis pun menyebut, utang pelajar ini akan mendorong ekonomi terbesar di dunia menuju ke krisis keuangan berikutnya.

Dilansir Deutsche Welle, seorang mahasiswa bernama Toni Vincent mendapatkan gelar master di bidang masyarakat tiga tahun lalu. Untuk keperluan studi, ia perlu mengambil pinjaman enam digit dolar AS sebelum menerima gaji pertamanya. Ketika menyelesaikan pendidikan, dia memiliki utang sekitar 100.000 dolar AS. Meski sudah bekerja selama tiga tahun sebagai manajer di sebuah organisasi nirlaba, ia masih terjerat pinjaman 80.000 dolar AS.

Vincent adalah satu dari 44 juta orang AS yang dibebani dengan pinjaman mahasiswa. Bersama-sama, mereka berutang total 1,5 triliun dolar AS, jumlah rekor yang hanya dilampaui oleh hipotek. Pinjaman mahasiswa membentuk hampir 7 persen dari total utang AS. Ini belum 64,2 miliar dolar AS dalam pinjaman siswa di universitas swasta, yang dikeluarkan oleh bank dan lainnya.

Menurut sebuah studi pada bulan Juni 2018 oleh , 42 persen dari semua siswa di AS harus mengambil pinjaman untuk pendidikan, dengan utang rata-rata sebesar 25.000 dolar AS. Mereka yang memulai studi pada tahun 2016, kemungkinan telah mengakumulasi utang rata-rata 37.000 dolar AS. “Lebih banyak orang bersekolah, dan lebih banyak orang meminjam,” ujar Direktur American Council on Education, Jon Fansmith.

Pada musim gugur 2018, sedikit di bawah 20 juta siswa telah mendaftar di universitas-universitas AS, naik dari sekitar 15 juta siswa pada musim gugur 2000. Mendapatkan gelar yang lebih tinggi saat ini adalah hal yang begitu penting. Pada tahun 2020, 65 persen dari semua tawaran pekerjaan akan membutuhkan setidaknya gelar sarjana, kata sebuah studi tahun 2013 oleh Universitas Georgetown.

Sebagian besar pelajar menyebut pendidikan sebagai investasi di masa depan. Tetapi, biaya untuk studi meningkat empat kali lipat selama tiga dekade terakhir. Berada di sebuah perguruan tinggi negeri selama empat tahun sekarang rata-rata membutuhkan biaya sekitar 20.000 dolar AS, sedangkan di perguruan tinggi swasta dapat menelan biaya hingga 50.000 dolar AS.

Siswa diharuskan membayar kembali rata-rata 351 dolar AS sebulan. Sayangnya, sebagian besar tidak dapat membayar apa pun setelah hanya dua tahun, sehingga gagal bayar. Constantine Yanellis, yang mengajar keuangan di New York University, menegaskan bahwa dari lebih dari 40 juta siswa yang berutang di AS, sekitar 10 persen gagal bayar dalam waktu 2 tahun sejak mulai pembayaran.

“Beban utang siswa AS dapat berdampak negatif terhadap ekonomi nasional dalam jangka panjang, karena kaum muda tidak akan memiliki uang untuk membeli mobil dan ,” tutur Gubernur , Jerome Powell, Maret tahun lalu. “Beban utang sebagai risiko ekonomi makro. Ketika pinjaman mahasiswa terus naik, ini benar-benar dapat menahan .”

Pemerintahan AS sebelumnya di bawah Presiden Barack Obama sempat memberikan bantuan melalui Student Loan Forgiveness Program, yang dimaksudkan untuk meringankan beban lulusan yang bekerja di sektor publik setelah studi. Tetapi, Departemen Pendidikan setempat baru saja mengumumkan bahwa di masa Presiden Donald Trump, sekitar 99,5 persen dari semua aplikasi di bawah program itu telah ditolak.

Loading...