Makin Laris di Singapura, Faktor Keamanan Skuter Listrik Diperdebatkan

atau e-scooter kini semakin populer di Singapura dan menyebabkan turunnya minat konsumen terhadap sepeda . Beberapa toko sekarang mampu menjual ratusan skuter listrik per bulan, sementara itu sepeda listrik diabaikan.

Menurut pedagang, aturan ketat untuk sepeda listrik yang diberlakukan pada lalu telah mendorong konsumen untuk mencari skuter listrik sebagai gantinya. Pasalnya, dalam aturan baru menetapkan bahwa sepeda listrik hanya diizinkan melintasi jalan dengan kecepatan hanya sampai 25 km/jam.

Mobot, salah satu produsen dan penjual perangkat mobilitas mengatakan jika sekarang pihaknya menjual lebih dari 400 skuter listrik sebulan, naik sekitar 30% sejak peraturan sepeda listrik ditetapkan.

Sepeda listrik umumnya lebih kencang dan lebih mahal. Sepeda listrik mampu melaju hingga 120 km/jam, sedangkan skuter hanya sampai maksimal 80 km/jam. Sementara itu harga e-scooter berkisar antara $ 300 (sekitar Rp 3.891.750) hingga $ 3.000 (Rp 38.917.500), sepeda listrik bisa hingga hampir $ 5.000 (Rp 64.862.500) untuk model high-end atau modifikasi.

Walaupun skuter listrik lebih lambat, kemungkinan juga akan menetapkan aturan yang lebih ketat pada skuter listrik setelah adanya banyak kecelakaan terhadap para pengguna skuter listrik.

Berdasar aturan yang diusulkan, perangkat mobilitas pribadi seperti e-skuter beratnya tak boleh lebih dari 20 kg, tidak termasuk aksesoris tambahan dan terbatas pada kecepatan maksimum 15 km/jam di jalan setapak dan 25 km/jam di jalan bersama. E-skuter tak diperbolehkan pergi ke jalan raya.

Banyak yang kurang setuju dengan aturan tersebut dan berharap pemerintah menyiapkan lebih memadai seperti jalur khusus untuk skuter listrik. Sementara itu ada pula yang beranggapan bahwa aturan yang perlu ditetapkan seharusnya adalah pembatasan .

Sementara itu Wakil Ketua Transport Government Parliamentary Committee (GPC), Ang Hin Kee mengatakan, “Banyak yang harus dilakukan untuk mendidik pengguna e-skuter karena masih banyak yang tidak menyadari aturan.”

Loading...