Luar Pulau Jawa Makin Terkendali, Angka Inflasi Terus Melandai

JAKARTA – Memasuki paro kedua 2014, tekanan barang dan jasa mulai mereda. Badan Pusat Statistik () mencatat, pertumbuhan pada Agustus 2014 hanya 0,47 persen jika dibandingkan dengan Juli 2014 (month-to-month/mtm). Dengan rendahnya tahunan (year-on-year/yoy) 3,99 persen, diperkirakan hingga akhir tahun bisa terkendali di level 4,5 persen plus minus 1 persen.

Kepala BPS Suryamin menyatakan, ada beberapa faktor yang mengakibatkan rendahnya inflasi pada Agustus 2014. Antara lain, usainya musim Lebaran dan liburan sekolah. Karena itu, kelompok barang dan jasa yang sebelumnya mengalami peak kembali masuk kondisi normal. Misalnya kelompok angkutan antarkota, telepon seluler, dan jasa keuangan yang mengalami -0,12 persen (mtm).

”Meski (pada Agustus) masih ada arus mudik, tiga minggu terakhir angkutan mulai turun sehingga deflasi,” katanya kemarin (1/9).

Begitu pula, bawang merah, tomat sayur, telur ayam ras, tomat buah, dan bawang putih melandai. Inflasi komponen bahan makanan hanya mencapai 0,36 persen (mtm). Namun, ada pula faktor penghambat rendahnya inflasi. Antara lain, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga yang mencatat inflasi hingga 1,58 persen (mtm).

Sementara itu, berdasar kelompok komponen, inflasi terbesar terjadi pada komponen administered price atau harga yang diatur pemerintah sebesar 0,63 persen. Untuk inflasi inti dan volatile food (harga yang bergejolak), masing-masing 0,63 persen dan 0,33 persen. ”Harga tarif pascabayar berubah karena kebijakan menteri ESDM turut memengaruhi,” terangnya.

inflasiMeski demikian, Suryamin mengakui, pengendalian inflasi di daerah semakin efektif dan berdampak signifikan. Hal itu terlihat dari makin banyaknya wilayah di luar Jawa yang membukukan inflasi rendah, bahkan deflasi.

Inflasi terendah terjadi di Banjarmasin, yakni 0,02 persen. Sebaliknya, inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan, yaitu 1,98 persen. ”Ada pula 16 kota yang mengalami deflasi. Deflasi tertinggi (penurunan harga terdalam) terjadi di Ternate, yakni -1,02 persen,” paparnya.

Kepala BPS Jatim M. Sairi Hasbullah mengungkapkan, Jatim kembali mendapat angka inflasi di bawah rata-rata nasional. ”Jika inflasi nasional tercatat 0,47 persen, Jatim berada di angka yang lebih rendah, yakni 0,37 persen,” katanya di Surabaya kemarin. Dari delapan kota IHK di Jatim, Surabaya mengalami inflasi tertinggi, yakni 0,50 persen. (JPNN/gal/dee/c5/agm)

Kota dengan Inflasi Tertinggi *

Kota | Inflasi

  • Sorong | 1,92 persen
  • Manokwari | 1,82 persen
  • Tual | 1,76 persen
  • Singkawang | 1,43 persen
  • Singaraja | 0,77 persen


Keterangan: Hingga Agustus 2014 (mtm)

Sumber: BPS

Loading...