Kamis Sore, Rupiah Lunglai Jelang Long Weekend Idul Adha

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

JAKARTA – Setelah menguat di pagi hari, ternyata harus berbalik ke zona merah pada Kamis (30/7) sore menjelang long weekend bertepatan Hari Raya Idul Adha, imbas hawa resesi yang semakin bertiup kencang. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda melemah 57 poin atau 0,40% ke level Rp14.600 per AS.

Sementara itu, menurut data yang diterbitkan pagi tadi, referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) hari ini berada di posisi Rp14.653 per dolar AS, terdepresiasi 83 poin atau 0,57% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.570 per dolar AS. Di saat bersamaan, sejumlah mata uang tampak mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,28% dialami dolar Taiwan.

Seperti disalin dari Bloomberg, sebagian besar mata uang di Benua Kuning menanjak setelah komitmen untuk menopang perekonomian AS membebani greenback. Rapat Federal Open Market Committee yang berakhir Rabu (29/7) waktu setempat memutuskan untuk mempertahankan tingkat bunga acuan di kisaran 0% sampai dengan 0,25%.

Dalam keterangan pers setelah rapat, Gubernur The Fed, Jerome Powell, menuturkan bahwa pemulihan ekonomi AS mungkin bakal lebih lambat dari prediksi semula. Pasalnya, data menunjukkan perlambatan dalam laju pemulihan ekonomi. “Data menunjukkan bahwa laju pemulihan ekonomi tampaknya melambat sejak kasus coronavirus kembali melonjak,” kata Powell.

Indeks dolar AS pun harus menerima nasib terperosok pada level terendah dalam lebih dari dua tahun pada hari Kamis, ketika Federal Reserve mengulangi janji untuk membatasi kerusakan akibat pandemi COVID-19. Mata uang Paman Sam melemah 0,050 poin atau 0,05% ke level 93,403 pada pukul 11.26 WIB, setelah sebelumnya sudah turun sebesar 0,52% pada hari Rabu, meski akhirnya mampu bangkit pada Kamis sore.

“Kami pikir, pertemuan bulan September dan November akan lebih penting, dengan (Federal Open Market Committee) diharapkan untuk menyelesaikan tinjauan kerangka kerjanya pada bulan September,” ujar Kepala Fixed Income Portfolio Management, Goldman Sachs Asset Management di New York, Mike Swell, dilansir Reuters. “Kemudian, mengubah pedoman ke depan dan mungkin menyesuaikan strategi penargetan inflasi.”

Loading...