Imbas Lockdown Virus Corona, Warga Asia Harus Beradaptasi dengan Kehidupan Abnormal

Kondisi Masyarakat karena Dampak Virus Corona - www.liputan6.comKondisi Masyarakat karena Dampak Virus Corona - www.liputan6.com

JAKARTA/SINGAPURA/NEW DELHI – Pandemi telah memicu gangguan , sosial, dan yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh dunia. Pemerintah di banyak negara telah berjuang untuk menahan penyebarannya, dengan memberlakukan pembatasan besar pada dan bisnis. Hal ini membuat banyak masyarakat di Asia dan negara lainnya harus beradaptasi dengan kehidupan abnormal, berjuang lebih keras mencari uang serta mengurungkan sebagian rencana, termasuk dan investasi.

Dilansir Nikkei, wabah COVID-19 telah memukul Indonesia dengan sangat keras. Beberapa ahli kesehatan bahkan khawatir bahwa negara ini bisa menjadi pusat penyebaran baru mengingat jumlah kasus selalu bertambah tiap harinya. Bahkan, Dana Moneter Internasional memperkirakan ekonomi hanya akan tumbuh 0,5% sepanjang tahun 2020 ini.

Tifa Asrianti, seorang wanita berusia 40 tahun, mengaku memiliki rencana ambisius di awal tahun kemarin. Dua tahun lalu, ia memutuskan meninggalkan pekerjaan kantornya untuk menjadi pekerja lepas dan mencari nafkah dengan melakukan penerjemahan, pemantauan media, dan penulisan konten. Tifa sedang bersiap untuk membeli pertamanya, sebuah apartemen studio di Bekasi, dan menginvestasikan penghasilan tambahan di pasar saham. Ia bahkan memesan liburan di Kanada.

“Namun, saya tidak lagi berencana untuk berinvestasi dan akan menyimpan uang di tabungan. Pengembang properti bilang bahwa itu tidak akan lagi siap tepat waktu,” katanya. “Saya berusaha mendapatkan uang saya kembali, tetapi sulit. Saya pikir, mengingat kondisi pasar saat ini, beberapa lokasi yang baik mungkin menjadi lebih terjangkau. Namun, bagaimana saya bisa mengecek dengan benar ketika semua orang merespons dengan sangat lambat?”

Situasi coronavirus telah menghidupkan kembali ingatannya tentang krisis keuangan Asia dan pergolakan politik di Indonesia pada akhir 1990-an, ketika saat itu jutaan orang kehilangan pekerjaan. Dia takut efeknya bisa ‘lebih kuat’ sekarang. “Namun, di sisi lain, teknologi komunikasi saat ini memungkinkan banyak orang melakukan bisnis online, bekerja dari mana saja, sehingga dapat menawarkan lebih banyak peluang daripada 1998,” tambah Tifa.

Tak jauh berbeda, Siti Royhan juga menganggap dirinya beruntung. Di awal usia 20-an, ia sudah bekerja di rantai coffee-to-go yang populer, yang telah mendirikan ratusan stand di kota-kota besar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Dia ditempatkan di sebuah kios di dalam kompleks apartemen yang ramai di Jakarta Selatan. Jadi, meskipun ada pengurangan pekerjaan dari enam menjadi lima hari seminggu, stand menerima lebih banyak daripada biasanya dalam beberapa minggu terakhir.

Meski begitu, Royhan tetap merasa sedih. Setidaknya, salah satu temannya yang bekerja untuk rantai kopi yang sama telah diberhentikan, dan yang lain cuti tidak dibayar, karena banyak stand di pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran di Jakarta terpaksa ditutup karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). “Saya juga bosan karena sekarang lebih banyak terjebak di kamar kost sepanjang hari,” ujarnya.

Di negara tetangga, Singapura, situasinya tidak jauh berbeda. Sejak pemerintah setempat mengumumkan penutupan tempat kerja selama sebulan dan larangan pertemuan publik, otomatis mengganggu banyak kehidupan dan bisnis, terutama untuk wiraswasta. Layanan penting seperti perawatan kesehatan dan logistik masih diperbolehkan beroperasi, tetapi hampir semua tempat kerja lainnya ditutup, artinya orang harus beradaptasi untuk bekerja dari jarak jauh.

“Kerangka waktu wabah yang tidak terbatas berarti bahwa tindakan sementara ini dapat berkembang menjadi perubahan permanen dalam cara orang hidup dan bekerja,” papar Tan Ern Ser, seorang profesor sosiologi di Universitas Nasional Singapura. “Pengusaha dan karyawan sekarang harus membiasakan diri dengan telekomunikasi dan konferensi video. Ini sekaligus semakin mengaburkan batas antara kehidupan kerja dan kehidupan keluarga.”

Nasib lebih tragis dialami banyak warga di India. Selama hampir seminggu setelah pemerintah mengumumkan penutupan secara nasional dalam upayanya mengendalikan penyebaran , banyak orang menjadi kelaparan. Pada 24 Maret, PM Narendra Modi mengumumkan penutupan total untuk hampir 1,3 miliar orang India dengan pemberitahuan hanya beberapa jam, memberi para pekerja migran sedikit waktu untuk membeli persediaan.

Buruh migran adalah penggerak sebagian besar perekonomian India. Jutaan orang di seluruh negeri bekerja di lokasi konstruksi, di pertanian, dan di pabrik-pabrik besar dan kecil. Dalam banyak kasus, mereka tinggal di tempat yang sama di mana mereka bekerja. Dengan lockdown, yang juga melarang transportasi antar-negara, ratusan ribu pekerja ini menjadi pengangguran dan kehilangan tempat tinggal. Mereka mencoba berjalan ke desa-desa dengan berjalan kaki, berkembang menjadi salah satu migrasi terbesar di India setelah kemerdekaan.

Di Jepang, ketika keadaan darurat diumumkan, Perdana Menteri Shinzo Abe meminta agar banyak bisnis ditutup, termasuk kafe internet, di tujuh prefektur, termasuk Tokyo. Bagi Sekito Yoshikawa, seorang pengajar, satu dari ribuan orang yang datang untuk bergantung pada ruang-ruang ini untuk akomodasi, itu berarti kehilangan rumahnya.

“Saya mengharapkan semua ini tidak terjadi. Saya hanya memiliki 100.000 yen tersisa dan tidak ada tempat lain untuk pergi,” katanya. “Saya tidak tahu harus ke mana. Perpustakaan ditutup, dan bahkan McDonald’s tutup pada malam hari karena virus itu. Kecemasan ini membuat saya mengalihkan pandangan dari kenyataan dan akhirnya merampas energi saya untuk merangkak keluar dari situasi ini.”

Pandemi telah membuat banyak orang di Tokyo berjuang mencari uang. Sopir taksi bernama Shigeo Oyama biasanya menjemput pekerja kerah putih dalam perjalanan pulang dari minum di distrik kelas atas Ginza. Namun, sejak keadaan darurat dimulai, jalanan sudah kosong. Penghasilannya turun lebih dari 30%. “Bayaran saya turun tetapi tagihan tidak akan menunggu. Saya harus membayar pajak properti dan mobil,” katanya.

Abe membayangkan pemulihan berbentuk V setelah pandemi, tetapi Oyama meragukannya. Menurutnya, ini akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk kembali normal. Banyak orang mencoba untuk menyelesaikannya dengan menghabiskan tabungan mereka sekarang, sehingga mereka tidak akan berbelanja seperti dulu. “Orang tidak akan menggunakan taksi terlebih dahulu, bahkan jika pandemi berakhir,” tambahnya.

Loading...