Lewat Sentuhan Teknologi Modern, Batik Indonesia Rambah Dunia

Teknologi Modern, Batik Indonesia - www.straitstimes.comTeknologi Modern, Batik Indonesia - www.straitstimes.com

Batik merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai dan perpaduan seni yang tinggi, serta sarat dengan makna filosofis. Saat ini, tidak hanya digunakan oleh masyarakat , kain batik telah merambah dunia internasional dengan banyak desainer muda yang giat membawa kerajinan ini ke panggung dunia lewat sentuhan teknologi .

Jauh dari kata sekarat, batik (berasal dari bahasa Jawa, amba (tulis) dan titik) memang sedang berkembang. Banyak desainer yang telah menempatkan kreasi batik di landasan pacu dunia, memperbarui yang sudah punah agar sesuai dengan tren mode saat ini, dan bahkan menggunakan teknologi untuk menghasilkan pola yang baru.

“Batik memiliki ciri khas tersendiri dan terlihat bagus dengan sendirinya, tetapi tetap harus mengikuti tren internasional saat ini,” ujar Denny (50), salah seorang perancang lokal, seperti dikutip dari The Straits Times. “Tantangannya adalah jangan terlalu gelisah atau berisiko tampil seperti freak mode dan menyelamatkan pola-pola yang kurang menonjol agar tidak mati dengan memberi mereka sentuhan modern.”

Di Bandung, Jawa Barat, trio inovatif di balik Batik Fractal memfokuskan pada ilmu pengetahuan dan bukan seni membuat batik. Pada tahun 2007, Muhammad Lukman, Nancy Margried Panjaitan, dan Yun Hariadi mengembangkan perangkat lunak mirip Photoshop yang disebut ‘jbatik’, yang menggunakan formula fraktal (sejenis persamaan matematis) untuk menghasilkan motif batik yang berulang.

Dengan menggunakan generator pola tiga dimensi dari aplikasi desktop, orang cukup mendownload 10 pola dasar batik dan men-tweaknya sesuai keinginan. Kemudian, versi terakhir dikirim ke perajin profesional untuk diproduksi dengan katun atau sutera. Tahun lalu, ‘jbatik’ adalah semifinalis dalam kompetisi para pengusaha sains dan teknologi yang diselenggarakan Innovation through Science and Technology initiative (GIST).

“Aplikasi tersebut telah mengalami empat kali revisi dan telah diunduh 3.000 kali sejauh ini,” kata Lukman, yang juga lulusan arsitektur dari Institut Teknologi Bandung. “Perangkat lunak ini tidak hanya mengurangi waktu yang dibutuhkan dalam merancang batik, tetapi juga memungkinkan orang untuk memvisualisasikan produk akhir dan membuat perubahan sampai mereka puas.”

Dirinya berharap, inovasi teknologi seperti ‘jbatik’ ini bisa menarik kaum muda untuk bergabung dengan industri batik. Pasalnya, banyak seniman batik adalah orang tua dan generasi muda tidak terlalu tertarik, sehingga alat ini sesuai dengan zaman mereka. “Teknologi tidak mematahkan tradisi, sebaliknya, ia dapat mempertahankan dan memperkuat tradisi,” sambung Lukman.

Asal-usul batik sendiri memang tidak jelas, namun diyakini telah diperkenalkan ke Jawa dari India sekitar abad ke-6, dan pernah dikenakan secara eksklusif oleh raja dan bangsawan Jawa. Ini menjadi pakaian di Indonesia pada tahun 1800-an. Sejak itu, ia telah berevolusi dengan gaya, motif, dan warna untuk mencerminkan pengaruh budaya asing. Kaligrafi Arab, karangan bunga Eropa, burung phoenix China, dan bunga ceri Jepang semuanya telah menjadi desain batik.

Salah satu penggemar batik Indonesia, khususnya buatan almarhum Iwan Tirta, seniman batik ternama lokal, adalah mantan presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, selain para pejabat seperti Ratu Elizabeth II dan mantan presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan dan Bill Clinton. Tidak hanya menarik perhatian politisi, batik Indonesia juga digunakan para bintang Hollywood, sebut saja Jessica Alba, Paris Hilton, dan Reese Witherspoon.

Loading...