Ledakan di Monas, Rupiah Tetap Berakhir Menguat

Rupiah - katadata.co.idRupiah - katadata.co.id

JAKARTA – Rupiah ternyata mampu mempertahankan posisi di zona hijau pada perdagangan Selasa (3/12) sore, meski pasar sempat diguncang oleh kabar ledakan granat asap di kawasan Monumen Nasional. Menurut Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda menguat 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.115 per AS.

Pagi tadi, warga Jakarta mendadak dihebohkan dengan kabar ledakan di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Belakangan diketahui bahwa ledakan tersebut berasal dari granat asap. Akibat ledakan it, dua personel TNI dilaporkan mengalami luka-luka. Korban pertama yang menemukan granat asap, mengalami luka parah di tangan kiri, sedangkan korban kedua mengalami luka ringan di bagian paha.

Ledakan di kawasan Monas tersebut sempat memengaruhi pergerakan indeks harga gabungan (IHSG) pada awal perdagangan. Berdasarkan data Indonesia (BEI), indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat menyentuh level terendah pada level 6.107 pada awal perdagangan Selasa. Namun, segera rebound ke level 6.131 pada pukul 09.36 WIB.

Sementara itu, dari pasar , indeks dolar AS mampu bergerak lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Selasa, di tengah kekhawatiran tentang data manufaktur AS yang lemah dan tanda-tanda front baru dalam perang dagang. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,052 poin atau 0,05% ke level 97,908 pada pukul 12.12 WIB.

Dilansir Reuters, investor masih khawatir tentang bagaimana AS akan menyelesaikan perang dagang selama 16 bulan dengan China, sementara lebih banyak tarif pada barang-barang lain akan menimbulkan risiko tambahan terhadap prospek global. Masalah diperparah setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan tarif impor logam dari Brasil dan Argentina.

“Data manufaktur AS yang lemah memaksa banyak orang untuk melepaskan dolar AS dan memotong kerugian,” kata ahli strategi valuta asing Daiwa Securities di Tokyo, Yukio Ishizuki. “Ini mungkin telah berjalan dengan sendirinya, tetapi tidak ada alasan untuk mengejar dolar AS dari sini. Gesekan perdagangan tetap menjadi ancaman yang bertahan lama, yang tidak baik untuk sentimen pasar.”

Loading...