Layani Berbagai Transaksi, Biaya Administrasi Bank OCBC NISP Mulai Rp 1.500

biaya, administrasi, bank, ocbc, nisp, kenaikan, laba, pendapatan, operasional, bukopin, promosi, komisi, provisi, penurunan, di, Indonesia, e-channel, merchant, listrik, telkom, kartu, kredit, Rp 2.000, Rp 3.000, transaksiPembayaran menggunakan kartu debit/kredit dikenakan biaya administrasi

OCBC NISP merupakan tertua keempat di Indonesia. OCBC NISP didirikan di Bandung tahun 1941 dengan nama NV Nederlandsch Indische Spaar En Deposito . Sebelumnya bernama OCBC NISP, tersebut dikenal dengan nama NISP.

Seperti bank pada umumnya, OCBC NISP menyediakan berbagai jasa bagi para nasabahnya. Pada beberapa transaksi, dikenakan biaya administrasi. Misalnya saat Anda melakukan transaksi seperti listrik (pascabayar, prabayar, dan non listrik) akan dikenai biaya sebesar Rp 3.000 apabila melalui e-channel, dan biaya administrasi sebesar Rp 2.000-Rp 3.000 jika dilakukan di . Nominal biaya tersebut berlaku untuk satu kali transaksi.

Selain pembayaran rekening listrik, ada berbagai macam transaksi lagi yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah pembayaran tagihan dari Telkom seperti telepon, Speedy atau Flexy. Besar biaya administrasi yang dibebankan sama dengan biaya administrasi untuk pembayaran listrik.

Nominal biaya administrasi sedikit berbeda pada transaksi pembayaran lainnya. Pembayaran (selain ANZ, Citibank Permata & Danamon) akan dikenai biaya sebesar Rp 3.500 sekali transaksi. Nominal itu sama saja, baik untuk pembayaran melalui e-channel maupun merchant. Biaya administrasi lebih murah dikenakan untuk transaksi Telkomsel yaitu Rp 1.500 per transaksi.

Besarnya biaya termasuk biaya administrasi akan memengaruhi laba yang diperoleh bank. Kenaikan biaya operasional membuat beberapa bank tidak mampu mencetak kenaikan laba. Bahkan, ada yang mencatatkan penurunan laba.

Salah satunya adalah Bank Bukopin. Pada semester I/2017, bank swasta itu membukukan penurunan laba sebesar 14 persen menjadi Rp 499,63 miliar. Penurunan laba itu dikarenakan turunnya laba operasional.

“Penurunan ini karena ekspansi kredit yang belum optimal sehingga LDR [loan to deposit ratio] bank BBKP rendah sekitar 70%. Karena LDR rendah, artinya DPK [dana pihak ketiga] naiknya dua digit sedangkan kredit di bawah 1% sehingga beban bunga naik,” kata Direktur Utama Bank Bukopin, Glen Glenardy.

“Faktor kedua yang membuat laba turun karena meningkatnya kredit bermasalah sehingga kami harus menambah CKPN,” tambah Glen.

Sementara itu, Bank Mega mencatatkan kenaikan laba secara tipis sebesar 5,29 persen menjadi Rp 568,1 miliar. “Pencapaian laba ini dikontribusi oleh peningkatan bunga bersih dan fee based income,” kata Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib.

Pendapatan bunga bersih Bank Mega tercatat naik 6,7 persen menjadi Rp 1,82 triliun disertai kenaikan pendapatan operasional non-bunga. Tetapi, pendapatan operasional sedikit tergerus oleh kenaikan beban operasional non-bunga, terutama untuk beban komisi/provisi/fee dan administrasi, serta beban lain seperti tenaga kerja, promosi, dan lainnya.

Ketika bank lain mencatatkan penurunan laba atau kenaikan laba secara tipis, Bank OCBC NISP justru mencatatkan pertumbuhan laba bersih di atas 20 persen. Hal itu dikarenakan oleh pengendalian beban atau biaya.

“Kalau dilihat, pertumbuhan biaya operasional kami lebih rendah ketimbang pertumbuhan pendapatan operasional,” ujar Presiden Direktur OCBC NISP Parwati Surjaudaja.

Loading...