Lawan Spekulasi Kenaikan Fed Rate, Rupiah Menguat Tipis di Akhir Dagang

mampu memanfaatkan celah pelemahan untuk bergerak di tengah semakin kencangnya spekulasi kenaikan The Fed. Menurut data Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda berhasil menutup sesi dagang hari ini (25/10) dengan penguatan tipis sebesar 7 poin atau 0,05% ke level Rp13.005 per dolar AS.

Rupiah sebenarnya mengawali hari ini dengan pelemahan sebesar 19 poin atau 0,15% ke Rp13.031 per dolar AS. Jeda siang, mata uang Garuda kembali turun 8 poin atau 0,06% ke Rp13.020 per dolar AS. Jelang tutup dagang atau pukul 15.43 WIB, spot mampu berbalik menguat tipis 1 poin atau 0,01% ke level Rp13.011 per dolar AS.

Sebelumnya, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, mengungkapkan bahwa ruang penguatan rupiah pada hari ini masih tersedia, tetapi sudah sangat terbatas. “Rupiah masih bisa menguat, paling tidak dalam jangka pendek,” katanya.

Terbatasnya ruang penguatan rupiah sedikit banyak dipicu oleh pergerakan indeks dolar AS yang cenderung positif dalam beberapa hari terakhir. Dolar AS terus bergerak di kisaran level tertingginya pada perdagangan Selasa pagi di tengah prediksi Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuannya tahun ini di saat bank sentral utama lainnya mempertahankan langkah pelonggaran moneter.

Indeks dolar AS terpantau dibuka menguat 0,045 poin atau 0,05% ke level 98,801. Kemudian, the greenback kembali melaju dengan tipis 0,016 poin atau 0,02% ke posisi 98,772 pada pukul 10.31 WIB. Namun, mata uang Paman Sam berbalik melemah 0,02% ke level 98,73 pada Selasa siang yang sekaligus menjadi momentum bagi rupiah untuk bangkit dari zona merah.

Berbeda dengan rupiah, kurs sejumlah mata uang Asia hari ini terpantau melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan memimpin pelemahan dengan turun 0,39%, disusul yen Jepang yang anjlok 0,26%. Won melemah usai bank sentral tersebut melaporkan performa yang mengecewakan terhadap pertumbuhan kuartal lalu.

Loading...