Larangan Kunjungan Turis Asal Indonesia Bakal Rugikan Industri Pariwisata Israel?

Wilayah Yerusalem - www.dw.com

Tel Aviv – Ketegangan antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza rupanya telah membuat mengeluarkan respons yang cukup keras melalui larangan turis-turis asal Israel untuk memasuki Indonesia. Larangan tersebut kabarnya merupakan wujud solidaritas dan kemanusiaan negara Indonesia terhadap Palestina sebagai sesama umat yang mayoritas merupakan .

Israel pun merespons kebijakan tersebut dengan menerbitkan larangan serupa bagi warga negara Indonesia (WNI) untuk berkunjung ke Israel. Awalnya larangan masuk bagi WNI ini hendak disahkan pada tanggal 9 Juni 2018, namun pemerintah Israel menundanya hingga tanggal 26 Juni 2018 mendatang. Keputusan ini disambut baik oleh asosiasi Israel.

“Kami menyerukan kepada Kementerian Luar Negeri untuk mempertimbangkan kembali keputusannya yang dianggap oleh rekan-rekan kami di seluruh dunia tidak proporsional, berlebihan dan berbahaya bagi institusi Kristen secara keseluruhan, tidak hanya dari Indonesia,” kata Kepala asosiasi pariwisata, Israel Incoming Tour Operators Association, Yossi Fatal, seperti dilansir Detik.

Seperti diketahui, larangan turis bagi pemegang paspor Indonesia dinilai akan merugikan bagi Israel, terutama di sektor pariwisata. Pasalnya, Israel merupakan ‘promised land’, bukan hanya untuk orang Israel, tetapi juga untuk umat Kristen di seluruh dunia.

Oleh sebab itu jumlah ziarah rohani ke Israel cukup besar. Bahkan kabarnya wisatawan Kristen asal Indonesia menduduki peringkat ke-3 peziarah terbanyak yang berkunjung ke Israel, setelah China dan Korea Selatan. Setidaknya terdapat 30.000 warga negara Indonesia yang mengunjungi Israel setiap tahunnya, terlebih karena Indonesia memiliki 24 juta umat Kristen atau sekitar 10% dari populasi penduduk keseluruhan.

Alhasil umat kristiani yang hendak ke Israel harus memutar otak untuk memasuki Israel lewat perbatasan Yordania atau Mesir, bukan melalui Bandara Ben-Gurion karena tiket pesawat dari Jakarta ke Tel Aviv jauh lebih mahal daripada ke Amman atau Kairo.

“Percayalah, meskipun dibingkai sebagai pembalasan terhadap Indonesia yang membekukan rencana (pembuatan) visa untuk orang Israel, pemerintah Indonesia tidak akan terpengaruh oleh keputusan Israel. Tetapi itu akan sangat mempengaruhi kita, orang Kristen di Indonesia yang mencintai Israel,” kata Monique Rijkers, pendiri Tolerance Film Festival and Hadassah of Indonesia, seperti dilansir Haaretz.

Loading...