Larangan Kunjungan 5 Negara Muslim, Wujud Nyata Islamophobia di Amerika?

Umat Muslim di Amerika - www.panjimas.com

Islamophobia atau ketakutan pada agama Islam dan para pemeluknya disebut-sebut sudah berkembang di sejak masa pemerintahan . Namun Islamophobia dinilai makin mencuat di bawah pemerintahan . Anggapan ini bukan tanpa sebab, pasalnya pada 26 Juni 2018 lalu Mahkamah Agung (MA) Serikat telah mendukung perintah eksekutif dari Trump untuk menetapkan larangan kunjungan warga dari 5 mayoritas yang kemudian disebut dengan istilah Ban.

“Presiden secara sah melaksanakan keleluasaan yang diberikan kepadanya di bawah Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan untuk menangguhkan masuknya orang asing ke Amerika Serikat,” tulis Hakim Agung John Roberts, seperti dilansir VOA Indonesia. Berdasarkan larangan yang telah disahkan oleh MA AS tersebut, 5 negara mayoritas berpenduduk muslim seperti Iran, Libya, Somalia, Suriah, dan Yaman dilarang memasuki wilayah AS.

Keputusan MA ini dibuat 932 hari setelah kandidat presiden dari Partai Republik ini menyerukan larangan total bagi muslim untuk memasuki AS. “Trump tidak menciptakannya, tetapi mengidentifikasi potensinya sebagai alat politik, menggalinya, lalu menyebarkan hal itu sepenuhnya demi keuntungannya,” kata Khaled Beydoun, penulis sekaligus profesor hukum Amerika, seperti dilansir TRTworld. “Kefanatikan eksplisit dari individu, dengan desain jahat memobilisasi Islamophobia ke dalam strategi kampanye penuh, akan berevolusi menjadi hukum negara,” imbuh Beydoun.

Dalam buku karya Beydoun, American Islamophobia: Understanding the Roots and Rise of Fear, ia menjelaskan konsep Islamophobia menurutnya. “Saya mendefinisikan Islamophobia sebagai anggapan bahwa Islam secara inheren adalah kekerasan, asing dan tidak dapat dibayangkan, sebuah anggapan yang didorong oleh keyakinan bahwa ekspresi identitas Muslim berkorelasi dengan kecenderungan untuk terorisme,” jelasnya.

Lebih lanjut Beydoun memaparkan jika Islamophobia terdiri dari 3 dimensi, yakni Islamophobia privat, struktural, dan dialektis. Adapun untuk Islamophobia privat berwujud ketakutan, kecurigaan, dan penargetan kekerasan muslim oleh individu yang biasanya diwujudkan lewat tindakan perusakan masjid, menyerang muslim yang terlihat, hingga tindakan ekstrem seperti membunuh.

Selanjutnya untuk dimensi struktural adalah ketakutan terhadap muslim di pihak institusi , serta yang terakhir dimensi dialektis mencakup kebijakan negara dialektik yang terkait dengan aktor-aktor sosial. “Sederhananya, Islamofobia yang disponsori negara memberi wewenang dan mendorong warga sipil untuk ikut serta dalam proyek nasional menghukum dan menganiaya muslim atau individu yang salah disangka sebagai muslim,” sambungnya.

Menurut Beydoun, dengan memahami dimensi Islamofobia di AS ini adalah langkah pertama untuk melawan pandangan tersebut, terutama seiring dengan tingginya gelombang kebencian yang dihadapi umat Islam di setiap sudut kehidupan di Amerika Serikat.

Loading...