Jumat Sore, Rupiah Menguat Jelang Laporan NFP AS

Rupiah - www.cnnindonesia.comRupiah - www.cnnindonesia.com

JAKARTA – mampu menjaga posisi di area hijau hingga Jumat (6/12) sore, ketika greenback cenderung bergerak loyo di tengah sentimen perang dagang dan jelang laporan nonfarm payrolls AS. Menurut catatan Index pada pukul 15.20 WIB, mata uang Garuda menguat 30 poin atau 0,22% ke level Rp14.038 per AS.

Dari , indeks dolar AS mengalami kerugian pada hari Jumat, diselimuti kegelisahan seputar perang perdagangan dan sinyal beragam tentang AS, sedangkan pound sterling bergerak lebih tinggi ditopang keyakinan bahwa Perdana Boris Johnson dapat memenangkan pemilihan umum. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,039 poin atau 0,04% ke level 97,371 pada pukul 11,13 WIB.

Dilansir dari Reuters, sentimen perang perdagangan AS- masih mendominasi pasar, ketika Presiden AS, Donald Trump, menyatakan keyakinannya bahwa pembicaraan bergerak terus. Meski demikian, masih gelisah lantaran kurangnya antusiasme yang sama dari pihak Negeri Tirai Bambu, setelah pejabat China menegaskan kembali sikap mereka bahwa beberapa tarif AS harus dibatalkan.

“Pasar berada dalam kondisi yang sangat rapuh saat ini,” kata kepala strategi pasar di CMC Markets di Sydney, Michael McCarthy. “Jadi, ada potensi untuk langkah berlebihan jika kita melihat perbedaan besar dari ekspektasi pada nonfarm payrolls, tetapi risikonya ada di kedua arah, terutama dengan kurangnya berita perdagangan.”

Saat ini, fokus pasar tengah tertuju pada laporan nonfarm payrolls AS, yang dijadwalkan akan dirilis pada Jumat sore waktu setempat. Sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan perkiraan 180.000 pekerjaan ditambahkan pada bulan November 2019 kemarin. “Di bawah 150.000 atau di atas 210.000, kita bisa melihat reaksi pasar yang signifikan,” sambung McCarthy.

Dari belahan Eropa, pound sterling semalam naik ke posisi tertinggi 2,5 tahun di level 84,28 terhadap euro dan telah menguat 1,7% terhadap dolar AS sepanjang pekan ini. Dorongan diperoleh setelah jajak pendapat menunjukkan Partai Konservatif yang berkuasa akan memenangkan suara dalam pemilihan 12 Desember, menghilangkan beberapa ketidakpastian di sekitar kepergian Inggris dari Uni Eropa yang telah membebani mata uang selama bertahun-tahun.

Loading...