Lanjutkan Penguatan, Rupiah Dibuka Naik 19 Poin

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

JAKARTA – melanjutkan tren untuk terus bergerak menguat pada awal perdagangan Selasa (18/12) ini. Seperti dipaparkan Bloomberg Index, mata uang Garuda membuka dengan naik 19 poin atau 0,13% ke level Rp14.561 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup menguat sangat tipis 1 poin atau 0,01% di posisi Rp14.580 per AS pada Senin (17/12) kemarin.

Menurut CNBC, rupiah terhadap dolar AS berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini. Tanda-tanda apresiasi rupiah sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF). Mengutip Refinitv, pada pukul 07.30 WIB, mata uang Garuda berada di posisi Rp14.560 per dolar AS, naik dibandingkan kemarin di level Rp14.585 per dolar AS.

“NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan tertentu pula,” tulis CNBC. “Pasar NDF seringkali memengaruhi psikologis pembentukan di pasar spot. Karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar sport. Sebelumnya, pasar NDF ini belum ada di Indonesia, hanya tersedia di Singapura, Hong Kong, New York, atau London.”

Sementara itu, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, mengungkapkan bahwa penguatan yang dialami rupiah dan kurs Asia kemarin karena pelaku pasar pesimis bahwa bakal menaikkan acuan sebesar 25 basis poin. Pada tahun depan, bank sentral AS juga diprediksi tidak akan terlalu agresif dalam menaikkan acuan mereka.

“Potensi rupiah menguat juga tidak lepas dari campur tangan Bank Indonesia yang telah mengambil langkah pre-emptives, yaitu dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada bulan lalu,” ujar Bhima, dikutip Kontan. “Kondisi ini membuat pasar jauh lebih stabil, berbeda dengan aksi The Fed yang memicu aksi jual di pasar.”

Hampir senada, analis Monex Investindo, Putu Agus Pransuamitra, mengatakan bahwa penguatan rupiah saat ini karena pelaku pasar yang harap-harap cemas dengan pengumuman The Fed mengenai kenaikan suku bunga acuan. Kecemasan tersebut ditambah dengan kondisi , seperti Uni Eropa, yang mampu melemahkan dolar AS.

Loading...