Lama Pendidikan Variatif, Biaya Kuliah Dokter Spesialis Anak Capai Puluhan Juta Rupiah per Semester

Biaya Kuliah Dokter Spesialis Anak - rsummi.comBiaya Kuliah Dokter Spesialis Anak - rsummi.com

Sudah bukan hal yang aneh lagi jika di Indonesia membutuhkan yang cukup mahal, terlebih jika seseorang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan dokter di spesialisasi tertentu, entah spesialis bedah, spesialis anak, hingga spesialis kandungan. Lama pendidikan pun akan sangat menentukan berapa biaya yang harus dikeluarkan sampai lulus menjadi dokter spesialis.

Sebagai perbandingan, biaya kuliah dokter spesialis anak di sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) yang ada di Indonesia dipatok variatif. Misalnya saja di Universitas Indonesia (UI), Spesialis 1 (Sp-1) Ilmu Anak kelas reguler total biayanya Rp 46 juta, mencakup komponen BOP dan DP.

Kemudian di Universitas Brawijaya (UB) Malang biaya pendidikan untuk program dokter spesialis Ilmu Kesehatan Anak terdiri dari beberapa komponen, yakni SPP tiap semester Rp 3 juta, ditambah dengan DBP Rp 6 juta per semester, dan bandwidth Rp 75 ribu per semester. Calon mahasiswa juga diharuskan membayar biaya perpustakaan Rp 200 ribu, jas Rp 275 ribu, TI Rp 200 ribu, dan SPFP Rp 65 juta sekali selama menempuh pendidikan.

Lain lagi dengan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, biaya kuliah dokter spesialis Ilmu Kesehatan Anak untuk tahun 2018/2019 dikenai SOP Rp 10 juta dan SP3 Rp 60 juta, sedangkan untuk spesialisasi Ilmu Bedah Anak masih relatif lebih murah, yakni SOP Rp 10 juta dan SP3 Rp 15 juta. Sementara itu di Universitas Gadjah Mada (UGM), biaya program studi spesialisasi Ilmu Kesehatan Anak jalur reguler Rp 10 juta dan untuk prodi Bedah Anak UKT-nya sebesar Rp 14 juta. Di UGM lama pendidikan spesialis anak sekitar 8 semester, sedangkan untuk bedah anak 10 semester.

Lalu apa sebenarnya yang membuat biaya sekolah kedokteran lebih mahal dibandingkan jurusan-jurusan lainnya? Menurut Wakil Rektor III Universitas Batam Dahlan Gunawan, mahalnya biaya pendidikan dokter disebabkan karena alat-alat praktikum yang tidak murah. Apalagi satu alat praktikum dapat mencapai miliaran dan belum termasuk untuk membeli cairan untuk praktikum. “Biaya mahal ini bukan hanya di Universitas Batam saja, tetapi Kedokteran lainnya juga mahal,” kata Dahlan, seperti dilansir Tirto.

Sedangkan untuk biaya pendidikan dokter spesialis tergantung pada bedah atau non-bedah. Biasanya biaya kuliah spesialis bedah lebih mahal. “Jadi memang ada perbedaan-perbedaan dan harus kita akui. Kenapa? Biaya untuk melakukan tindakan atau melatih tindakan, menggunakan sarana-sarana yang lebih mahal,” kata Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Bambang Supriyatno.

Loading...