Lalu Lintas Udara di ASEAN Dianggap Belum Cukup Aman

Tingkat keamanan di kawasan Asia Tenggara ternyata masih sangat mengkhawatirkan. Bahkan, pengawasan di wilayah ini dianggap belum memenuhi standar internasional.

Masalah-masalah ini muncul sangat akut di Asia Tenggara, dilihat dari ruam kecelakaan baru-baru ini. Misalnya, hilangnya Airlines Penerbangan 370 yang dikaitkan dengan pengendali lalu lintas udara yang ambivalen dan tidak kompeten (termasuk pengawas yang diduga tidur). Sementara, penyimpangan pemeliharaan sistemik dan kesalahan pilot diduga menjadi penyebab hilangnya Penerbangan AirAsia 8501 baru-baru ini.

Pekan lalu, US Federal Aviation Administration, menurunkan peringkat keselamatan untuk seluruh sistem penerbangan di Thailand. Menurut mereka, wisatawan harus berpikir dua kali untuk pergi ke Thailand dan juga negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia.

CEO Air Asia, Tony Fernandes, CEO AirAsia, juga telah menyatakan secara terbuka keprihatinannya atas masalah keamanan. Menurutnya, sudah waktunya untuk berhenti berbicara tentang pentingnya integrasi dan melakukan sesuatu tentang hal itu.

Sebagai catatan , tahun lalu, lebih dari 40 persen kematian pada komersial terjadi di wilayah tersebut. Indonesia sendiri telah mengalami setidaknya satu kecelakaan fatal, termasuk hilanganya setiap tahun sejak 2010.

Sementara Juli lalu, analisis Journal memang menemukan bahwa negara-negara Asia-Pasifik “hanya” mengalami 84 minor safety-related incidents selama lima tahun terakhir. Angka ini masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan 356 kejadian di Eropa dan 145 kecelakaan di Utara. Namun dalam periode yang sama, telah terjadi 31 kecelakaan fatal yang melibatkan jet penumpang besar di Asia, sedangkan di Eropa terjadi 12 kecelakaan dan 6 kecelakaan terjadi di Utara.

“Perbedaan tersebut mengisyaratkan masalah yang lebih luas. Lebih dari setengah dari semua kecelakaan di kawasan Asia-Pasifik disebabkan kurangnya pengawasan peraturan dan kurangnya manajemen keselamatan”, komentar Adam Minter dalam artikelnya yang dimuat View.

Selain itu, daerah di Asia Tenggara juga dinilai belum mampu membangun infrastruktur dan pendidikan awak penerbangan yang solid. Karena itu, selama 20 tahun ke depan, kawasan Asia membutuhkan puluhan ribu pengendali lalu lintas udara dan pilot yang terlatih untuk menangani lalu lintas penerbangan. [blo/apk]

Loading...