Laju Rupiah Diramal Tak Mulus Meski Menguat di Awal Dagang

diramal akan kembali bergerak di zona merah pada perdagangan awal pekan ini (15/8) meski dibuka dengan penguatan. Pernyataan Presiden The Fed San Francisco serta cukup stabilnya data klaim pengangguran mingguan di AS membuat the kembali mengalami penguatan sehingga dapat mengganggu gerak mata uang Garuda.

Seperti diwartakan Index, rupiah mengawali perdagangan awal pekan ini dengan penguatan 10 poin atau 0,08% di level Rp13.108 per dolar AS. Namun, spot berbalik tipis 3 poin atau 0,02% ke posisi Rp13.121 per dolar AS pada pukul 08.21 WIB. Sementara itu, indeks dolar AS berhasil rebound 0,03% ke 95,748 pada awal dagang hari ini.

“Cukup stabilnya data klaim pengangguran mingguan di AS mendorong dolar AS kembali menguat terhadap sejumlah mata uang global, termasuk rupiah,” jelas Kepala Riset NH Securities , . “Penguatan laju dolar AS juga karena adanya sikap ambil posisi jelang rilis data ritel, indeks harga produsen, dan tingkat keyakinan konsumen di AS.”

Sementara itu, Analis Treasury BNI, Resti Afiadinie, menambahkan bahwa pernyataan Presiden The Fed San Francisco, John Williams, yang menyebutkan bahwa The Fed harus menaikkan pada tahun ini menjadi sentimen bagi dolar AS. “Namun, peluang rupiah untuk menguat masih terbuka jika data Indonesia memberikan hasil ,” katanya.

Resti pun menebak rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.100 hingga Rp13.150 per dolar AS. Sementara, Reza memprediksi mata uang Garuda berada di level support Rp13.126 per dolar AS dan resisten Rp13.092 per dolar AS.

Loading...