Laju Pertumbuhan Ekonomi AS Lambat, Rupiah Naik Tipis di Awal Dagang

Rupiah - www.aktual.comRupiah - www.aktual.com

Jakarta – Pada awal pagi hari ini, Jumat (29/3), dibuka menguat tipis sebesar 1,5 poin atau 0,01 persen ke level Rp 14.241,5 per AS. Sebelumnya, Kamis (28/3), Garuda berakhir terdepresiasi 35 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp 14.243 per USD.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama memperpanjang penguatannya. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,44 persen menjadi 97,2026 lantaran para saat ini masih mencermati sejumlah data ekonomi utama di Amerika Serikat.

Dilansir Xinhua melalui iNews, Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan, ekonomi AS pada kuartal keempat 2018 direvisi turun ke tingkat tahunan 2,2 persen, dari yang sebelumnya berada di angka 2,6 persen. Laju yang lambat disebabkan karena pengeluaran konsumsi pribadi, pengeluaran pemerintah, negara bagian dan lokal, serta investasi tetap non perumahan yang direvisi turun.

Kemudian Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, pada pekan yang berakhir 23 Maret 2019, klaim pengangguran awal AS mencapai 211.000, turun 5.000 dari tingkat yang direvisi pekan sebelumnya. Menurut para ekonom yang disurvei MarketWatch, klaim pengangguran mingguan diperkirakan 222.000.

Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, rupiah kemarin anjlok akibat jatuhnya nilai tukar lira usai pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang ingin mengintervensi lembaga keuangan yang membuat lira terus melemah. Lira semakin melemah usai Erdogan menyatakan pendapatnya menjelang pemilihan umum di Turki.

Lebih lanjut Josua menjelaskan, kondisi di Turki ini mengakibatkan para investor asing cenderung menjual lira dan dampaknya juga dirasakan oleh mata uang negara emerging market lainnya, termasuk rupiah. “Kalau ada satu sentimen negatif di negara berkembang, biasanya akan memberikan efek negatif pula pada mata uang Asia lainnya termasuk rupiah,” kata Josua, seperti dilansir Kontan.

Tak ayal jika kemudian dolar AS semakin laris di spot hingga menekan gerak rupiah. Terlebih karena mata uang utama lain seperti euro dan pound sterling juga melemah terhadap dolar AS. “Bank sentral cenderung dovish dan permasalahan Brexit membuat major currency melemah dan mendorong dollar AS menguat,” ungkapnya.

Gerak rupiah pada perdagangan hari ini tergantung dari hasil laporan keuangan AS seperti data pertumbuhan ekonomi dan pengangguran AS. “Jika data AS nanti malam positif maka dollar AS bisa semakin menguat,” ujar Josua.

Loading...