Lahir, Bayi-Bayi Wanita Rohingya Korban Perkosaan Tentara Myanmar

Bayi Wanita Rohingya Korban Perkosaan Tentara Myanmar - www.trtworld.comBayi Wanita Rohingya Korban Perkosaan Tentara Myanmar - www.trtworld.com

Lebih dari 10 bulan sejak pasukan Myanmar melancarkan kampanye pemerkosaan dan kebrutalan lainnya terhadap wanita , yang dikandung selama serangan itu telah lahir. Kelahiran telah diwarnai dengan rasa takut, bukan hanya karena adalah pengingat dari kengerian yang dialami, tetapi karena komunitas sering memandang perkosaan sebagai hal yang memalukan, dan melahirkan bayi yang dikandung oleh umat Buddha sebagai penistaan.

Menurut yang diturunkan TRT World, bayi-bayi itu adalah penderitaan yang dibicarakan hanya dalam bisikan. Beberapa wanita mengakhiri kehamilan mereka lebih awal dengan mengambil pil aborsi murah yang tersedia di seluruh kamp. Sementara, yang lain terpaksa melahirkan sendiri bayi yang tidak mereka cintai, dengan menjejalkan syal di mulut saat persalinan untuk menahan jeritan.

Bagi wanita yang hamil selama gelombang serangan tahun lalu di negara bagian Rakhine, Myanmar, berbicara kebenaran adalah mengambil risiko kehilangan segalanya. Karena itu, tidak ada yang tahu berapa banyak korban perkosaan yang melahirkan. Tetapi, mengingat luasnya kekerasan seksual, kelompok-kelompok bantuan telah bersiap untuk yang terburuk, yaitu lonjakan migrasi dari wanita yang mengalami trauma dan puluhan bayi yang ditinggalkan di kamp-kamp pengungsian.

Pada bulan Juni kemarin, tingkat kelahiran di klinik memang relatif stabil dan hanya segelintir bayi yang ditemukan. Namun, pekerja sosial mulai curiga bahwa banyak wanita yang melakukan proses persalinan secara diam-diam. “Mereka tidak akan datang untuk pemeriksaan kehamilan. Saya yakin banyak juga yang meninggal selama kehamilan atau selama persalinan,” kata bidan Medecins Sans Frontieres, Daniela Cassio, yang juga spesialis kekerasan seksual.

Namun, ada beberapa wanita yang mulai bosan dengan persembunyian. Sepuluh wanita setuju untuk melakukan wawancara dengan The Associated Press. Mereka setuju untuk diidentifikasi dalam cerita ini dengan inisial pertama mereka saja, dengan alasan takut akan pembalasan dari militer Myanmar. “Aku menginginkan keadilan. Itu sebabnya aku berbicara dengan pers,” kata wanita dengan inisial M.

Mimpi buruknya bermula seperti yang terjadi pada begitu banyak wanita Rohingya, dengan puluhan prajurit mengerumuni desanya pada bulan Agustus, tak lama setelah pemberontak Rohingya menyerang beberapa pos polisi. Rincian serangannya mengikuti pola yang didokumentasikan tahun lalu dalam penyelidikan oleh AP. Investigasi itu, berdasarkan wawancara dengan 29 korban perkosaan, pemeriksaan medis dan kesaksian dari dokter, menyimpulkan perkosaan perempuan Rohingya dilakukan secara menyeluruh dan metodis.

Bagi beberapa korban perkosaan, gagasan melahirkan seorang anak yang dikandung oleh seseorang selain seorang Muslim merasa seperti takdir yang lebih buruk daripada kematian. Jadi, mereka beralih ke klinik dan darurat yang didirikan di kamp-kamp untuk -obatan aborsi, yang mereka harapkan dapat mengakhiri penderitaan mereka.

Seorang wanita dengan inisial T sebenarnya tidak tahu dia bisa pergi ke rumah sakit untuk aborsi. Tetapi, suatu hari, dia bertemu dengan seorang pekerja bantuan yang berjalan melalui kamp-kamp, lalu memberinya obat aborsi. T kemudian mengambil pil-pil itu, mengunjungi seorang pemimpin agama yang melakukan upacara, yang katanya akan memindahkan bayi itu. Ketika dia mulai berdarah, dia merasa seolah-olah kekotoran di dalam dirinya telah dicuci bersih.

Sementara, wanita berinisial A, yang sebenarnya masih seusia anak-anak, kewalahan dengan ketidakpastian atas apa yang diharapkan. Selama berjam-jam, dia ‘bekerja’ di lantai tempat tinggalnya, dengan ibu dan neneknya di sisinya, sampai akhirnya dia mendorong keluar seorang bayi berkelamin perempuan. Dia menatap bayi itu dan mulai gemetar, merasa seperti akan mengalami shock.

Bayi itu gemuk dan kuat, dengan wajah bulat dan mata kecil. Saat A menatap anaknya, dia melihat keindahan, tetapi dia juga melihat rasa sakit. Dia tahu dia tidak bisa menjaga gadis itu. Ayahnya bergegas ke klinik yang dikelola oleh kelompok bantuan dan meminta mereka membawa pergi bayinya. Satu jam setelah A melahirkan, seorang pekerja bantuan tiba untuk mengambil bayi itu.

Dia tidak tahu siapa yang merawat bayinya sekarang. Tetapi, kelompok seperti Save the Children dan UNICEF telah menemukan keluarga Rohingya di dalam kamp yang bersedia mengambil anak-anak tersebut. “Meski saya mendapatkan bayi ini dari umat Buddha, saya mencintainya. Memberikan bayi itu mungkin adalah keputusan yang tepat,” kata A.

Loading...