Lagi, Rupiah Terlempar Jauh ke Zona Merah di Pembukaan

Rupiah - www.jatengpos.comRupiah - www.jatengpos.com

Jakarta – Nilai tukar pagi hari ini, Kamis (6/12) dibuka melemah 80 poin atau 0,56 persen ke posisi Rp 14.482,5 per dolar AS. Kemarin, Rabu (5/12), kurs berakhir terdepresiasi 111 poin atau 0,78 persen ke level Rp 14.403 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah utama terpantau menguat. Di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS lantaran tingginya ekspektasi terkait kenaikan acuan pada bulan Desember 2018 ini.

Dilansir Xinhua, harapan untuk mendorong menaikkan suku bunganya pada pertemuan kebijakan berikutnya tanggal 18-19 Desember 2018 makin tinggi. Hal tersebut dilakukan demi menopang dolar AS yang merupakan salah satu mata uang safe haven.

Mata uang Amerika Serikat ini disebutkan telah mengalami tekanan cukup dalam seiring dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS 2 dan 3 yang melampaui tenor 5 untuk hari kedua pada Selasa. Inversi kurva imbal hasil yang jarang terlihat biasanya dipandang sebagai tanda kemerosotan ekonomi, sehingga memicu kekhawatiran terkait perlambatan pertumbuhan ekonomi AS.

Di samping itu, aksi jual belum lama ini di pasar saham dan ketidakpastian terus-menerus terkait ketegangan perdagangan AS-China sudah meningkatkan permintaan terhadap dolar AS lantaran para investor menghindari aset berisiko.

Menurut Bank (BI), pelemahan rupiah saat ini bersifat teknikal. “Pelemahan rupiah dipicu oleh risk-off di pasar keuangan karena penolakan parlemen Inggris terhadap proposal Brexit,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Nanang Hendarsah, seperti dilansir Kontan.

Sebelumnya proposal Brexit sudah disepakati oleh pemerintah Inggris dan Uni Eropa. Namun karena adanya penolakan, seluruh mata uang dunia juga turut terdampak dan melemah terhadap USD. “Jadi bukan karena adanya perubahan faktor fundamental di dalam negeri,” ungkap Nanang.

Oleh sebab itu ia mengungkapkan bahwa hal ini adalah dinamika pasar yang biasa dan temporer. Bukan karena adanya perubahan view terhadap rupiah dari positif dan negatif. Dengan pelemahan ini, rupiah secara year to date telah melemah 5 persen, masih jauh lebih rendah dari mata uang emerging market lainnya.

Loading...