Laba Terus Surut, Akuisisi Jadi Modal Perusahaan Asia Untuk Bangkit

Akuisisi Jadi Modal Perusahaan Asia Untuk Bangkit - asia.nikkei.com

HONG KONG – Beberapa terkemuka di memang mengalami penurunan back-to-back pertama untuk laba bersih tahunan sejak krisis keuangan melanda wilayah tersebut tahun 1998 lalu. Namun, ada banyak alasan yang dapat dijadikan faktor bahwa industri di Benua Kuning masih berada dalam pertumbuhan, salah satunya merger dan akuisisi perusahaan asing.

Menurut laporan Nikkei Asia300 Index, sepanjang Februari 2017, keuntungan bersih yang diraih perusahaan di Asia turun 5,4 persen. Sebelumnya, laba bersih perusahaan juga sudah 5,6 persen pada bulan Januari 2017. Meski demikian, beberapa kalangan menilai bahwa perusahaan di Asia masih dapat meraih pertumbuhan pada tahun ini, setidaknya hingga dua digit.

“Kami melihat pertumbuhan laba di Asia, di luar Jepang, bisa mencapai dua digit pada tahun ini,” kata ahli strategi ekuitas Asia Pasifik di Credit Suisse, Suresh Tantia. “Pasalnya, ada perbaikan dalam tiga faktor yang sebelumnya membebani laba, yaitu yang merambat naik, data ekonomi yang menunjukkan rebound, dan lingkungan deflasi.”

Faktor lain kenapa laba perusahaan Asia bisa kembali tumbuh adalah karena pembelian besar. Menurut Dealogic, 11 negara Asia dan wilayah yang termasuk dalam Nikkei Asia300 Index, kecuali Jepang, menghabiskan 750 miliar dolar AS untuk merger dan akuisisi sepanjang tahun lalu. Angka tersebut memang masih lebih kecil dari perusahaan di Amerika Utara, namun telah mendekati angka untuk Eropa dan jauh melebihi pasar negara berkembang lainnya, seperti Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika.

Samsung Electronics memercikkan dana 8 miliar dolar AS untuk mencaplok perusahaan yang berbasis di AS, Harman International Industries, November 2016 lalu. Akuisisi ini merupakan yang terbesar yang pernah dilakukan perusahaan Korea Selatan, sebagai upaya untuk beralih fokus dari IT dan mobile ke connected car dan mobil otonom. “Kami melihat peluang pertumbuhan jangka panjang yang cukup besar di pasar teknologi auto,” jelas Presiden dan CEO Samsung, Sohn Young-kwon.

Li Ka-shing, orang terkaya di Hong Kong, kabarnya juga telah melakukan penawaran untuk membangun kerajaan . Langkah terbarunya melibatkan 7,4 miliar dolar Australia yang ditawarkan untuk perusahaan energi Australia, Duet Group, yang dibuat pada bulan Januari oleh konsorsium andalan Li, CK Hutchison Holdings.

Kesepakatan memang masih menunggu persetujuan regulator, tetapi melalui akuisisi selama dekade terakhir, CK Hutchison telah berhasil melakukan diversifikasi sumber pendapatan, terutama di luar pasar domestik. Untuk semester pertama tahun 2016, setengah pendapatan sebesar 180 miliar dolar Hong Kong dan 59 persen dari pendapatannya, sebelum bunga dan pajak, berasal dari Eropa.

Di samping itu, perkiraan terbaru dari IMF menunjukkan bahwa ekonomi negara-negara berkembang di Asia, termasuk China, India, dan lima negara Asia Tenggara, akan tumbuh 6,4 persen pada tahun ini dan 6,3 persen pada tahun depan. Untuk jangka panjang, Asian Development Bank (ADB) melihat proyeksi pertumbuhan tahunan di Asia Pasifik mencapai 5,3 persen hingga tahun 2030.

Namun, ahli strategi ekuitas Asia di BNP Paribas, Manishi Raychaudhuri, mengatakan bahwa laba perusahaan Asia mungkin bisa tetap mengecewakan meski tren baru bermunculan di kawasan tersebut. “Hingga sekarang, kita masih berjuang untuk menemukan perusahaan dengan dengan waralaba global dan nama merek yang kuat untuk jejak kaki di seluruh dunia, dengan beberapa pengecualian di Korea Selatan,” katanya.

“Pergeseran demografis juga tidak menguntungkan di sebagian besar negara-negara Asia,” sambung Raychaudhuri. “Bahkan, untuk negara dengan populasi muda, seperti India dan Indonesia, kenaikan otomatis dapat menghambat penciptaan lapangan kerja. Mengalihkan dana untuk adalah penting bagi pemerintah Asia, dan itu berarti mereka harus memiliki disiplin fiskal dan memotong subsidi.”

Loading...