Laba Bersih Meningkat, Ekonomi Indonesia Membaik

Jakarta – Sejumlah perusahaan besar di Indonesia mengumumkan adanya kenaikan pendapatan. Hal ini sekaligus memberi angin segar pada pasar terkait pertumbuhan yang ada di Indonesia.

Empat dari 5 perusahaan yang telah terdaftar melaporkan peningkatan laba bersih senilai 2 digit untuk periode 6 bulan terakhir. Telekomunikasi Indonesia misalnya, yang merupakan perusahaan telekomunikasi milik negara, menunjukkan peningkatan paling besar, yaitu dengan lonjakan laba 33% berkat mobile data yang kuat.

“Secara garis besar, ini merupakan pertama kalinya dalam lima sampai enam kuarter terakhir kita melihat adanya perkembangan angka,” ujar Kepala Penelitian di Credit Suisse, Jahanzeb Naseer.

Unilever Indonesia untuk indeks kelas berat mencapai 3,6 atau senilai Rp 47.800 usai perusahaan ini melaporkan adanya kenaikan 13% untuk laba bersih.

Hanjaya Mandala Sampoerna, perusahaan terbesar di Indonesia sekaligus anak perusahaan rokok AS Philip Morris melaporkan peningkatan 23% laba bersih. Rokok yang merupakan indikator utama di Indonesia. Kebanyakan perokok berasal dari kalangan laki-laki dewasa.

“Sepertinya banyak hal yang membaik,” ujar Wakil Presiden Bank Central , Eugene Keith Galbraith pada Jumat (29/7) kemarin. Pemberi pinjaman swasta terbesar di Indonesia ini mencatat adanya kenaikan 12% laba bersih pada pendapatan bunga yang lebih tinggi, didorong kenaikan 20% di korporasi. “Rasanya seperti sentimen membaik, dan kerangka kebijakan semakin jelas. Kami berharap tahun depan akan jauh lebih baik.

Sedangkan Astra International justru melaporkan penurunan laba bersih 12% disebabkan karena lemahnya dukungan dari divisi peralatan dan kondisi keuangan mereka. Namun inti menunjukkan adanya peningkatan 4% untuk 273.000 kendaraan.

Para analis telah lama mengamati penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dimulai sejak tahun 2011 di tengah anjloknya komoditas dan pasar mata uang. Tadinya mereka berharap Presiden Joko Widodo dapat membawa kemajuan lewat janji-janji reformasi ekonomi pada Oktober 2014. Namun harapan itu meredup. Periode Januari-Maret, produk domestik bruto hanya mengalami peningkatan kurang dari 5% dari tahun ke tahun, lebih lambat dari triwulan sebelumnya.

Bertepatan dengan bulan suci Ramadan, Matahari Department Store berhasil memperoleh 30% pendapatan dan terjadi lonjakan laba bersih sebesar 79% selama bulan Januari-Juni. Penurunanan drastis terlihat pada bulan Juli-September.

Beberapa perusahaan mengalami hal yang jauh dari perkiraan. Pada Kamis (28/7) S&P Global Ratings menurunkan suku bunga kredit Lippo Karawaci, perusahaan pengembang properti terbesar.

Loading...