Pasar Nantikan Data Penjualan Ritel AS, Rupiah Loyo di Awal Dagang

Rupiah - rebanas.comRupiah - rebanas.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Rabu (15/1), dengan pelemahan sebesar 4 poin atau 0,03 persen ke level Rp13.684 per AS. Sebelumnya, Selasa (14/1), Garuda berakhir terdepresiasi 7 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp13.680 per .

Di sisi lain, kurs yuan China melemah pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB dan yen Jepang berhasil membalikkan kerugian sebelumnya usai sebuah laporan menyebutkan jika Amerika Serikat akan mempertahankan tarif atas barang-barang China sampai pemilihan umum AS sehingga merugikan sentimen risiko. Berita tersebut dirilis sehari sebelum penandatanganan perjanjian perdagangan AS dan China fase satu untuk meredam perang dagang yang telah terjadi 18 bulan lamanya.

AS menyatakan akan meninjau dan menghapus tudingannya terhadap China sebagai manipulator mata uang dalam apa yang sudah dilihat sebagai tindakan damai sebelum ditandatanganinya kesepakatan. “Kesepakatan perdagangan tidak membahas masalah struktural, tetapi setidaknya untuk itu mengurangi beberapa tekanan dan beberapa kecemasan dan ketidakpastian yang mengganggu sepanjang 2019,” ujar Mark McCormick, kepala analis valas Amerika Utara di TD Securities di Toronto, seperti dilansir News melalui Antara.

Pada Selasa (14/1) juga dirilis data yang menyebutkan bahwa harga-harga konsumen Amerika Serikat sedikit naik pada Desember 2019 dan tekanan inflasi yang mendasari bulanan mengalami penurunan, sehingga berpotensi untuk mendorong menahan suku bunga acuannya tidak berubah sepanjang tahun 2020 ini. Pasar kini sedang fokus pada data penjualan ritel AS yang bakal dirilis pada Kamis (16/1) besok.

Menurut Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri, nilai tukar rupiah berpeluang untuk menguat dalam perdagangan hari ini. Penguatan rupiah itu tergantung pada hasil data neraca dagang Desember 2019 yang akan dirilis hari ini. “Besok (hari ini) kemungkinan akan melemah tipis atau cenderung sideways. Pasar menunggu data trade balance, dan ekspektasinya kita masih akan defisit,” ujar Reny, seperti dilansir Kontan.

Ekspektasi itu pula yang dipercaya bakal menekan rupiah. Sedangkan arus inflow atau dana asing yang masuk diperkirakan masih deras, seiring redanya konflik AS dengan Iran, serta meningkatnya kemungkinan damai fase pertama dalam negosiasi dagang antara AS dan China.

Loading...