Kondisi Dalam Negeri Belum Kondusif, Rupiah Terlempar ke Level Rp14.188/USD

Rupiah - www.indonesia-investments.comRupiah - www.indonesia-investments.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Jumat (27/9), dengan pelemahan sebesar 23 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp14.188 per AS. Sebelumnya, Kamis (26/9), kurs Garuda berakhir terdepresiasi 13 poin atau 0,10 persen ke level Rp14.165 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau sedikit menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan menguat 0,11 persen menjadi 99,1363 lantaran para investor saat ini tengah mencerna berbagai Amerika Serikat yang baru saja dirilis.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Kamis (26/9), pada pekan yang berakhir tanggal 21 September 2019, klaim pengangguran awal AS yang secara kasar digunakan untuk mengukur tingkat PHK mencapai angka 213.000 atau meningkat 3.000 dari tingkat yang direvisi pada pekan sebelumnya. Angka itu sedikit lebih tinggi dari prediksi para ekonom. Menurut para ekonom yang telah disurvei oleh MarketWatch sebelumnya memprediksi bahwa klaim baru pengangguran akan mencapai total 211.000 yang disesuaikan secara musiman.

Sedangkan menurut perkiraan ketiga yang dilaporkan oleh Biro Analisis Ekonomi, domestik bruto (PDB) riil Amerika Serikat mengalami peningkatan pada tingkat tahunan mencapai 2 persen pada kuartal kedua.

Analis Trade Future Deddy Yusuf Siregar berpendapat bahwa kondisi politik di dalam negeri maupun di Amerika Serikat saat ini sama-sama menyumbang sentimen negatif untuk rupiah. Dari dalam negeri, aksi demo terkait penolakan RUU KUHP dan revisi UU KPK masih berlangsung di sejumlah wilayah yang ada di . Aksi demo yang belum reda itu telah mengakibatkan rupiah melemah.

Di sisi lain kondisi politik di AS juga kurang kondusif seiring dengan upaya DPR AS untuk memakzulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurut Deddy, berbagai masalah politik itu telah menimbulkan ketidakpastian dan juga kekhawatiran pelaku . Oleh sebab itu, pelaku lebih cenderung memilih aset yang lebih aman seperti USD dibanding rupiah. “Investor saat ini belum nyaman untuk memilih instrumen berisiko seperti rupiah,” jelas Deddy, seperti dilansir Kontan.

Hari ini Deddy memperkirakan rupiah masih mungkin untuk melemah jika kondisi politik dalam negeri masih belum kondusif. “Rupiah bisa berlanjut melemah bila pemerintah tidak menyampaikan komentar yang bisa memberikan suasana dalam negeri lebih kondusif dan nyaman bagi investor,” ucap Deddy.

Loading...