Rupiah Lagi-Lagi Tergelincir di Awal Dagang Seiring dengan Ketidakpastian Brexit

Rupiah - visi-jabon.comRupiah - visi-jabon.com

Jakarta – Pada pagi hari ini, Kamis (8/8), diperdagangkan melemah sebesar 9 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp14.234 per dolar AS. Kemarin, Rabu (7/8), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 50 poin atau 0,35 persen ke level Rp14.227 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama dilaporkan sedikit melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS terpantau turun tipis 0,09 persen menjadi 97,5505 seiring dengan penurunan pound sterling Inggris dan dolar Kanada.

Pound sterling saat ini tengah tertekan lantaran para pelaku sedang berhati-hati dan mengamati secara cermat perkembangan seputar yang dijadwalkan pada 31 Oktober 2019 mendatang. Pemerintah Inggris sendiri mengungkapkan bahwa mereka ingin menegosiasikan kesepakatan baru dengan Brussels di tengah tuduhan bahwa tak ada dasar untuk pembicaraan semacam itu untuk sementara waktu, demikian seperti dilansir Antara. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pun telah berjanji akan meninggalkan Uni Eropa pada batas waktu, dengan atau tanpa kesepakatan.

Rupiah sendiri kemarin menguat lantaran perselisihan dagang antara Amerika Serikat dengan China mulai mereda. Menurut Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim, hal tersebut membuat pasar kembali bergairah untuk mengoleksi rupiah meskipun dolar AS sedang menguat. Campur tangan dari Bank Indonesia pun dinilai berhasil menjaga nilai tukar rupiah supaya kembali menguat. Terlebih karena sentimen dari dalam dan luar negeri juga luar biasa.

Ibrahim berpendapat bahwa rupiah masih berpeluang untuk menguat hari ini karena didukung oleh data internal yang positif. Adapun volatilitas kurs rupiah pada Rabu kemarin diakibatkan sentimen eksternal dan internal. “Dari sentimen eksternal, pelaku pasar cenderung lega karena masih adanya harapan dari AS dan China untuk kembali ke meja perundingan,” kata Ibrahim, seperti dilansir Kontan.

Sentimen lainnya dari eksternal yang ikut memengaruhi gerak rupiah adalah dipangkasnya acuan di India (RBI) dan Thailand (BoT) masing-masing 35 basis poin (bps) dan 25 bps. Kondisi itu turut mendukung rupiah untuk menguat karena mendorong aliran dana masuk lewat .

Loading...