Kondisi Perang Dagang AS & China Masih Belum Jelas, Rupiah Dibuka Melemah

Rupiah - money.kompas.comRupiah - money.kompas.com

Jakarta rupiah mengawali pagi hari ini, Rabu (13/11), dengan pelemahan sebesar 16 poin ke posisi Rp14.070 per AS. Kemudian rupiah lanjut melemah 20 poin atau 0,14 persen menjadi Rp14.074 per USD. Sebelumnya, Selasa (12/11), Garuda berakhir terapresiasi 13 poin atau 0,09 persen ke level Rp14.054 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau sedikit berubah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,11 persen menjadi 98,310 usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tak akan memberikan perincian baru terkait keadaan perang dagang antara AS dengan China.

Saat berpidato dalam The Economic Club of New York, Trump justru sekali lagi menyoroti . Ia mengeluhkan fakta bahwa Amerika Serikat memiliki suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju lainnya. Pidato Trump kala itu memang sudah dinantikan oleh . Sayangnya, kurangnya detail terkait hubungan dagang AS-China dipandang beberapa sebagai sinyal pesimistis.

“Saya kira kita tidak belajar sesuatu yang baru dari pidato Trump. Satu-satunya hal yang mungkin baru adalah bahwa ia tidak mengumumkan tanggal dan waktu untuk upacara penandatanganan. Di mana pasar berharap untuk itu, harapan-harapan itu pupus. Kami telah sedikit pudar dalam aset-aset berisiko ketika dia mulai berbicara dan dikonfirmasi bahwa dia tidak akan mengumumkan (kesepakatan) tahap satu,” ungkap Greg Anderson, kepala strategi valuta asing global di BMO Capital Markets, seperti dilansir Reuters melalui Antara.

Sementara itu, gerak rupiah cenderung terbatas lantaran dipengaruhi oleh situasi luar negeri dan sejumlah negara yang masih jadi perhatian pasar. “Ini masih kelihatannya bergerak datar. Belum ada sentimen baru yang signifikan. Jadi masih terkait berita-berita terkait ketegangan di Hong Kong yang masih belum reda. Masih banyak katanya berita-berita palsu beredar di media. Terus perkembangan terkait Brexit juga. Jadi masih soal situasi ,” kata Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Samual, seperti dikutip Kontan.

Menurut David pada perdagangan hari ini investor kemungkinan masih akan memperhatikan aset-aset di negara emerging market termasuk Indonesia. Rupiah dianggap masih menarik lantaran mempunyai imbal hasil yang jauh lebih tinggi daripada negara maju seperti AS.

Loading...