BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Terlempar ke Level Rp14.100/USD

Rupiah - www.jayabaya.ac.idRupiah - www.jayabaya.ac.id

Jakarta dibuka melemah sebesar 8,5 poin atau 0,06 persen ke level Rp14.100 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (22/11). Sebelumnya, Kamis (21/11), mata uang Garuda berakhir terapresiasi tipis 3 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp14.092 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau sedikit menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,07 persen menjadi 97,9964 lantaran para pelaku saat ini sedang mempertimbangkan sejumlah rilis data Amerika Serikat yang beragam.

Menurut laporan Departemen AS pada Kamis (21/11), klaim pengangguran awal AS atau orang yang mengklaim tunjangan pengangguran mencapai 227.000, tak berubah dari tingkat yang direvisi pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, riset swasta The Conference Board melaporkan, indeks ekonomi utama untuk Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar 0,1 persen pada Oktober 2019 menjadi 111,7, menyusul penurunan 0,2 persen pada September dan Agustus sebelumnya.

“Penurunan ini didorong oleh kelemahan dalam pesanan baru untuk manufaktur, rata-rata jam kerja mingguan, dan klaim asuransi pengangguran,” ujar Ataman Ozyildirim, analis senior di The Conference Board, seperti dilansir Antara.

Dolar AS pun masih memperoleh dukungan dari rilis risalah pertemuan Oktober The Fed pada Rabu (20/11) yang menunjukkan bahwa The Fed tak perlu menurunkan suku bunga sekali lagi kecuali terdapat penilaian ulang material dari prospek ekonomi.

Sementara itu, rupiah kemarin menguat setelah Bank (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 5 persen. Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, gerak rupiah kemarin dipengaruhi oleh Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank serta rilis notulensi FOMC Meeting yang diselenggarakan pada 30-31 Oktober 2019 lalu.

Berdasarkan pidato Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell sebelumnya, petinggi The Fed mengisyaratkan bahwa ada peluang suku bunga acuan AS tak akan berubah sampai akhir tahun 2019 ini. “Tetapi jika notulensi FOMC ternyata lebih dovish, ada peluang rupiah rebound,” papar Josua, seperti dilansir Kontan.

Loading...