Hubungan AS-China Kembali Memanas, Rupiah Terlempar ke Zona Merah

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

Jakarta – Kurs rupiah mengawali perdagangan pagi hari ini, Kamis (10/10), dengan pelemahan sebesar 6 poin atau 0,04 persen ke level Rp14.179 per AS. Kemarin, Rabu (9/10), Garuda ditutup terdepresiasi 11 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp14.173 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau turun. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS melemah tipis 0,01 persen jadi 99,1212 setelah pertemuan .

Komite Terbuka Federal (FOMC), unit kebijakan penetapan Fed, memutuskan untuk menurunkan acuan sebesar seperempat basis poin pada pertemuan 17-18 September 2019. Dengan demikian, dana federal atau overnight funds rate berada pada kisaran target 1,75 persen hingga 2,00 persen.

“Mungkin perlu bagi Komite untuk mencari keselarasan ekspektasi pasar yang lebih baik mengenai jalur tingkat kebijakan dengan ekspektasi para pembuat kebijakan untuk jalur itu,” demikian bunyi risalah The Fed, seperti dilansir Antara.

Sedangkan sehari sebelumnya, indeks dolar AS sedikit menguat di tengah pelemahan pound sterling Inggris lantaran para pelaku pasar mengkhawatirkan prospek Brexit yang berpotensi berakhir tanpa kesepakatan dan volatilitas akan menyusul kemudian.

Di sisi lain, rupiah ikut melemah karena tertekan sentimen negatif dari global, terutama terkait perang dagang antara Amerika Serikat dengan China yang kini kembali memanas. Hubungan AS dan China memburuk usai AS memutuskan menambah 28 komponen China dalam daftar hitam. AS mengaitkan anggota daftar hitam tersebut dengan kasus internal di China, yakni masalah hak asasi manusia yang terjadi di Xinjiang.

Apalagi menjelang perundingan AS-China pada Kamis, AS juga menerapkan pembatasan visa pada sejumlah pejabat China. “Keputusan AS tersebut menjadi negatif di global. Sehingga kemarin malam Dow Jones melemah lebih dari 1% dan berdampak terhadap rupiah,” kata Ekonom Bank Central (BCA) David Sumual, seperti dilansir Kontan.

David juga memprediksi jika hari ini rupiah akan bergerak cenderung melemah. Pasalnya masih belum ada data terbaru yang mampu menopang laju rupiah. Terlebih karena sentimen dari dalam negeri berupa penurunan cadangan devisa bulan September 2019 pun turut membebani rupiah.

Loading...