Kurs Rupiah Terus Tertekan, Pertumbuhan Ekonomi Andalkan Konsumsi

JAKARTA–Kegemaran masyarakat yang doyan belanja dan konsumtif menjadi andalan pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Tahun ini pemerintah optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,8 persen.

Hal itu didasarkan pada konsumsi dalam negeri dan belanja pemerintah di sektor infrastruktur yang diharapkan bisa menutup minimnya pertumbuhan karena melemahnya perekonomian pada tahun ini. “Daya beli masyarakat akan menjadi pendorong perekonomian Indonesia tahun ini,” kata Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro di gedung DPR Senayan, Jakarta, kemarin (22/1).

Selain kontribusi dari konsumsi masyarakat yang tumbuh cukup signifikan, kenaikan belanja seiring dengan naiknya alokasi anggaran untuk pengembangan infrastruktur diharapkan mampu menjadi motor penggerak perekonomian di dalam negeri. “Dengan dua faktor itu, kami optimistis bahwa ekonomi Indonesia tahun ini akan lebih baik daripada 2014,” ucap Bambang.

Seperti diberitakan, pemerintah telah mengajukan perubahan asumsi sejumlah indikator perekonomian Indonesia dalam APBN-Perubahan 2015. Di antaranya adalah target pertumbuhan ekonomi yang diubah menjadi 5,8 persen, 5 persen, nilai tukar Rp 12.200 per USD, tingkat bunga SPN tiga bulan 6,2 persen, dan harga minyak mentah dunia USD 70 per barel dengan produksi 849 ribu barel per hari.

Menurut Bambang, pemerintah sulit mengandalkan pertumbuhan ekspor karena perekonomian global diprediksi masih mengalami perlambatan seperti 2014. Apalagi, Dana Moneter (IMF) baru saja mengumumkan revisi target pertumbuhan ekonomi dunia 2015 menjadi 3,5 persen dari proyeksi sebelumnya di 3,8 persen. “Proyeksi itu menunjukkan bahwa perekonomian global tidak secerah yang diperkirakan. Kecuali Amerika Serikat (AS), -negara lain akan mengalami perlemahan pertumbuhan tahun ini,” paparnya.

Rupiah turun anjlokSependapat dengan menteri keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia akan mengalami dua tantangan sepanjang 2015. Yakni, kenaikan hargaharga komoditas dan penguatan ekonomi AS yang ditandai dengan menguatnya nilai tukar .

“Dua hal tersebut dapat berdampak pada inflasi di Indonesia. Khususnya untuk administered price atau harga barang-barang yang ditentukan oleh pemerintah seperti ,” jelasnya. (mna/c1/jay/jpnn)

Loading...