Pagi Ini Rupiah Rebound Bareng Won & Dolar Taiwan

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Rabu (4/9), dengan penguatan sebesar 6 poin atau 0,04 persen ke level Rp14.221,5 per AS. Sebelumnya, Selasa (3/9), Garuda berakhir terdepresiasi 34 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp14.228 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan turun sebesar 0,04 persen menjadi 98,9947 di tengah penguatan pound sterling Inggris. Pound sterling rebound lantaran Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kehilangan suara penting di parlemen, sehingga meredakan kekhawatiran terkait kemungkinan tanpa kesepakatan.

Pada Selasa (3/9), pemerintah Inggris kalah dengan selisih 27 suara saat anggota parlemen pemberontak merebut kembali agenda parlemen. Hal tersebut memungkinkan debat RUU untuk memblokir Brexit tanpa adanya kesepakatan.

Hasil pemilihan parlemen dianggap sebagai pukulan telak untuk Johnson yang berjanji untuk membawa Inggris keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober 2019 mendatang, baik dengan atau tanpa kesepakatan, meski ditentang keras oleh pemberontak Tory dan anggota parlemen oposisi. Dengan aliansi pemberontak mengambil kendali parlementer, maka diharapkan agar undang-undang yang berupaya untuk menunda proses Brexit melebihi 31 Oktober 2019 akan diajukan.

Sementara itu, rupiah menguat bersamaan dengan penguatan mayoritas mata uang Asia. Pada pagi hari ini, won memimpin kenaikan mata uang Asia dengan penguatan sebesar 0,54 persen, lalu dolar Taiwan juga terpantau menguat 0,12 persen, kemudian disusul oleh rupiah yang juga naik di awal dagang hari ini. Berdasarkan dari Bloomberg Index, hanya dolar Hong Kong dan yen yang pagi ini terdepresiasi.

Pada Selasa (3/9) kemarin, pemerintah rupanya hanya berhasil memenangkan Rp7 triliun pada lelang sukuk , sesuai target indikatif. Padahal permintaan yang masuk menginjak angka Rp21,82 triliun. Di sisi lain, general manager of the investment trust and fixed income securities SBI Securities Tsutomu Soma menuturkan bahwa fundamental dasar yang mengakibatkan investor menarik diri dari aset berisiko adalah isu terkait konflik dagang AS dengan China, terutama di saat ekonomi melambat.

Lebih lanjut Soma mengatakan, sentimen yang lemah sementara ini akan berlanjut. “Jika kondisi semakin turun di Hong Kong yang juga merupakan masalah terkait China, maka mata uang regional akan tertekan dan menopang dolar,” jelas Soma, seperti dilansir Bloomberg melalui Kontan.

Loading...