The Fed Pangkas Suku Bunga, Rupiah Berbalik Melemah di Pembukaan

Rupiah - www.harianaceh.co.idRupiah - www.harianaceh.co.id

Jakarta dibuka melemah sebesar 34,8 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp14.101,3 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (19/9). Kemarin, Rabu (18/9), Garuda berakhir terapresiasi 33 poin atau 0,24 persen ke level Rp14.067 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,31 persen menjadi 98,5730 usai Federal Reserve menurunkan suku bunga acuannya.

The Fed diketahui memotong suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi ke kisaran 1,75 persen hingga 2,00 persen di tengah meningkatnya risiko dan ketidakpastian yang disebabkan oleh memanasnya konflik perdagangan dan perlambatan ekonomi . Pemangkasan suku bunga The Fed itu sendiri sesuai dengan ekspektasi sebelumnya.

Walaupun pasar kuat dan yang kuat dalam pengeluaran rumah tangga, menurut FOMC, investasi tetap bisnis dan ekspor telah melemah. “Pada basis 12 bulan, inflasi keseluruhan dan inflasi untuk barang-barang selain makanan dan energi berjalan di bawah target inflasi bank sentral sebesar dua persen,” demikian bunyi pernyataan FOMC, seperti dilansir Antara.

Dari dalam negeri, penguatan rupiah kemarin rupanya dipicu oleh sejumlah sentimen global. Menurut Analis Monex Investindo Ahmad Yudiawan, sentimen utama yang memicu penguatan rupiah salah satunya adalah kondisi geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan di wilayah Timur Tengah ini terjadi usai meredanya penyerangan kilang minyak Arab Saudi. “Berangsur lebih pulih setelah kemarin minyak Arab Saudi diserang pemberontak di Yaman,” jelas Yudi, seperti dilansir Kontan.

Selain itu, terdapat perubahan respons dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Mulanya, Trump mengaku akan memerangi Iran yang dituduh sebagai pelaku dari penyerangan kilang minyak Arab Saudi tersebut. Namun rupanya Trump dikabarkan menangguhkan rencana tersebut. “Hal ini menyebabkan pasar kembali memegang aset-aset berisiko,” ungkap Yudi.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menambahkan, rupiah menguat lantaran pasar menanti hasil keputusan The Fed. Pasar yang mengharapkan The Fed memangkas suku bunganya ternyata berhasil mendorong penguatan untuk rupiah. “Hal ini tidak cuma terjadi pada rupiah melainkan mata uang lainnya juga,” tandas Lana.

Loading...