Tertekan Faktor Eksternal & Internal, Rupiah Belum Mampu Bangkit dari Zona Merah

Rupiah - akuratnews.comRupiah - akuratnews.com

Jakarta – Nilai tukar mengawali pagi hari ini, Rabu (25/9), dengan pelemahan sebesar 6 poin atau 4 persen ke level Rp14.120 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (24/9), Garuda berakhir terdepresiasi 29 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp14.114 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan turun sebesar 0,27 persen menjadi 98,3392 lantaran para pelaku saat ini masih mencerna berbagai terbaru yang kurang positif.

Indeks kepercayaan Amerika Serikat menyusut pada September 2019 seiring dengan meningkatnya ketegangan perdagangan yang memicu kekhawatiran terkait kondisi dan juga pasar tenaga kerja, sinyal potensial yang mengkhawatirkan untuk pengeluaran konsumen yang selama ini dianggap sebagai penggerak ekonomi.

Conference Board, sebuah kelompok riset bisnis berbasis di New York melaporkan bahwa indeks kepercayaan konsumen AS melemah jadi 125,1 pada bulan September 2019, penurunan yang cukup dalam dari data bulan Agustus 2019 di angka 134,2. “Meningkatnya ketegangan perdagangan dan tarif pada akhir Agustus tampaknya telah mengguncang konsumen,” ujar Lynn Franco, direktur senior indikator ekonomi di Conference Board, seperti dilansir Antara.

Hasil survei yang kurang menggembirakan dari Conference Board mencerminkan survei kepercayaan lain dan bisa memperbarui kekhawatiran pasar dari resesi yang sudah mereda berkat penjualan ritel, produksi industri, data perumahan yang kuat bulan Agustus 2019 lalu.

Sementara itu, dari dalam negeri Kepala Ekonom BCA David Sumual mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah didominasi oleh sentimen eksternal. Terkait peristiwa demo mahasiswa yang menolak RUU KUHP dan revisi UU KPK hanya turut membebani gerak rupiah di pasar spot. “Bursa regional hari ini menguat, jadi tekan rupiah,” ujar David, seperti dikutip Kontan.

Tak jauh berbeda, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai rupiah melemah akibat rilis data PMI kawasan Eropa yang lebih rendah dari perkiraan pasar. Data ekonomi zona Eropa yang buruk mengakibatkan pasar saham Eropa terkoreksi dan mendorong USD untuk naik, sehingga berimbas pada pelemahan rupiah. “Fokus pelaku pasar pada perlambatan ekonomi Eropa dan penantian negosiasi perang dagang AS dan China,” tandas Josua.

Loading...