Imbas Profit Taking, Rupiah Tergelincir di Awal Dagang

Rupiah - mappijatim.or.idRupiah - mappijatim.or.id

Jakarta dibuka melemah 5,3 poin atau 0,04 persen ke level Rp14.057,8 per AS pada awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (11/9). Sebelumnya, Selasa (10/9), kurs Garuda berakhir terdepresiasi 18 poin atau 0,13 persen ke posisi Rp14.053 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik sebesar 0,05 persen menjadi 98,3332 lantaran para pelaku saat ini sedang menanti keputusan kebijakan moneter dari sejumlah besar.

Seperti dilansir Xinhua melalui iNews, Eropa atau ECB akan meninjau kebijakan moneternya pada akhir pekan ini. Sedangkan Amerika Serikat akan memulai pertemuan kebijakan dua hari pada tanggal 17 September 2019 mendatang.

Di sisi lain, rupiah tak berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau lantaran para investor kini cenderung melakukan aksi profit taking alias ambil untung. Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, salah satu penyebab rupiah melemah karena terkena imbas dari faktor profit taking. Pasalnya mata uang rupiah telah menguat hingga hampir sepekan lamanya.

“Aksi profit taking ini nyatanya membuat rupiah tidak bisa mengikuti penguatan mata uang emerging market lainnya,” kata Josua, seperti dilansir Kontan. Padahal kemarin yuan mengalami penguatan usai data inflasi yang dirilis ternyata lebih tinggi dari konsensus pasar di angka 2,8 persen.

Tak jauh berbeda, Analis Valbury Futures Lukman Leong menambahkan bahwa dolar AS menguat dan menekan gerak rupiah lantaran terjadi risk appetite pada dolar AS usai para pelaku pasar memperkirakan The Fed tak akan terlalu agresif dalam memangkas suku bunga acuannya. “Setelah ada harapan penyelesaian perang dagang AS dan China yang cukup positif, awalnya pelaku pasar berharap The Fed pangkas 50 basis poin tapi kini mereda jadi 25 basis poin,” beber Lukman.

Josua memperkirakan bahwa gerak rupiah pada hari ini akan cenderung stabil karena masih belum ada data ekonomi yang signifikan yang mampu menopang laju rupiah. Sedangkan Lukman memprediksi rupiah akan menguat terbatas pada perdagangan hari ini.

Loading...