Rebound, Rupiah Dibuka Menguat ke Posisi Rp14.250/USD

Rupiah - riauterbit.comRupiah - riauterbit.com

Jakarta – Rupiah dibuka menguat 9 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp14.250 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (29/8). Kemarin, Rabu (28/8), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 4 poin atau 0,03 persen ke level Rp14.259 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik tipis sebesar 0,25 persen menjadi 98,248 lantaran inversi yang semakin dalam dari kurva imbal hasil Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran terkait resesi beberapa hari sebelum pengenaan tarif balasan AS dan China terkait impor masing-masing ditetapkan.

Dilansir Antara, imbal hasil pemerintah AS bertenor 2 tahun naik melebihi imbal hasil 10 tahun ke spread atau selisih serendah -6,5 basis poin. Spread mengindikasikan resesi apabila berada di angka di bawah nol, sedangkan terakhir minus 3,7 basis poin. Para pelaku mengkhawatirkan efek perang dagang antara AS dan China akan berdampak pada perlambatan dunia.

Sementara itu, pelemahan rupiah selama tiga hari berturut-turut kemarin menurut Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih bukan disebabkan oleh faktor domestik, tetapi berasal dari faktor . Lana menuturkan bahwa saat ini probabilitas resesi meningkat dipicu oleh data ekonomi terbaru dari negara Jerman. “Ekonomi Jerman tumbuh -0,1% secara kuartalan,” ujar Lana, seperti dilansir Kontan.

Isu perang dagang juga menurut Lana masih sangat berpengaruh terhadap gerak rupiah. Perang dagang yang terjadi saat ini menimbulkan koreksi besar terhadap data-data di AS. “Kemarin itu kan ada koreksi besar di AS,” sambung Lana.

Analis Monex Investindo Ahmad Yudiawan pun menambahkan, salah satu sentimen negatif di pasar adalah bantahan bahwa China sudah menghubungi AS untuk melakukan perundingan. Sebagai informasi, sebelumnya China dikabarkan sudah mengontak AS untuk kembali berunding dan memunculkan optimisme di pasar. “China sendiri yang mengatakan bahwa mereka merasa tidak ada menghubungi atau mengontak AS, hal ini berpotensi untuk menekan aset berisiko karena situasinya kembali kisruh,” ungkap Yudi.

Loading...