Perang Dagang AS-China Memanas, Rupiah Melemah Terhadap USD

Rupiah - www.suratkabar.idRupiah - www.suratkabar.id

Jakarta – Kurs mengawali pagi hari ini, Rabu (28/8), dengan pelemahan sebesar 2,5 poin atau 0,02 persen ke level Rp14.257,5 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (27/8), nilai tukar Garuda berakhir terdepresiasi 12 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp14.255 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa tau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan melemah lantaran timbul kekhawatiran baru terkait penyelesaian perang dagang antara Amerika Serikat dengan China. Oleh sebab itu, para pelaku pun mengamankan hartanya ke aset save haven, sehingga memperdalam inversi kurva imbal hasil surat utang dan membuat yen Jepang menguat terhadap USD.

Adapun imbal hasil AS bertenor 10 tahun, yang merupakan indikator utama sentimen pasar terkait kesehatan ekonomi AS secara keseluruhan rupanya mengalami penurunan lebih cepat dibandingkan imbal hasil pemerintah AS bertenor 2 tahun, sehingga memperdalam inversi keduanya. Inversi atau pembalikan imbal hasil, yakni indikator resesi yang diterima secara luas, telah menahan laju dolar AS selama beberapa hari usai AS dan China menaikkan impor untuk masing-masing.

“Anda telah melihat dorongan lebih dalam ke inversi pada kurva 2s/10s. Hari ini, sulit untuk meletakkan jari Anda pada satu penggerak spesifik dari inversi itu – meskipun itu mungkin berkontribusi pada umum penghindaran risiko (risk-off) di pasar,” ujar Brian Daingerfield, ahli strategi makro di RBS Securities, seperti dilansir Antara.

Sebelumnya, Jumat (23/8), China menuturkan akan menaikkan tarif barang-barang AS dengan nilai mencapai USD75 miliar. Kemudian, AS pun membalas akan menaikkan juga tarif pada USD250 miliar barang-barang China dari 25 persen menjadi 30 persen pada 1 Oktober.

Kondisi memanasnya perang dagang itulah yang membuat pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang negara Asia bergerak variatif. “Beberapa ada yang menguat, tapi rupiah menjadi salah satu mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS,” kata Ekonom Bank Permata Josua Pardede, seperti dilansir Kontan.

Loading...