Wait And See Arah Kebijakan BI, Rupiah Dibuka Menguat Tipis

Rupiah - koran.tempo.coRupiah - koran.tempo.co

Jakarta – Kurs dibuka menguat 4,7 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp14.262,8 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (21/8). Sebelumnya, Selasa (20/8), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 30 poin atau 0,21 persen ke level Rp14.268 per USD.

Sementara itu, pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah 0,18 persen menjadi 98,17.

Sayangnya, pada perdagangan hari ini rupiah diperkirakan masih akan tertekan akibat tekanan dari eksternal yang masih mendominasi . Menurut Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim, hal ini disebabkan oleh berbagai ketidakpastian , terutama menanti pertemuan bulanan Bank Indonesia (BI). Oleh sebab itu sebagian besar lebih memilih untuk menjauhi aset berisiko seperti rupiah untuk sementara waktu.

“Apabila situasi geopolitik sudah kembali normal, adanya petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS, dan Gubernur BI Perry Warjiyo menetapkan acuan sesuai dengan ekspektasi pasar, maka rupiah bisa bangkit kembali,” kata Ibrahim, seperti dilansir Bisnis.

Pada pekan ini, para pelaku pasar juga sedang menanti hasil pertemuan tahunan dari bank sentral Amerika Serikat atau di Jackson Hole untuk menemukan petunjuk lebih jelas terkait arah kebijakan suku bunga acuan. Seperti dilansir dari CME Fedwatch, probabilitas pemangkasan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 1,75 persen hingga 2 persen pada rapat tanggal 18 September mendatang mencapai 95 persen.

Senada, Analis Asia Trade Point Future Deddy Yusuf Siregar berpendapat bahwa gerak rupiah hari ini masih menanti notulensi FOMC Meeting pada Kamis (22/8). Oleh sebab itu pasar cenderung wait and see. “Pasar juga tengah menanti arah kebijakan The Federal Reserve selanjutnya. Selain itu, dari dalam negeri juga, ada juga agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dimulai hari ini hingga Kamis (22/8) nanti,” kata Deddy, seperti dilansir Kontan.

Loading...