Dolar AS Jatuh Akibat Profit Taking, Rupiah Ikut Tak Berdaya Usai Libur Waisak

Rupiah - www.medanbisnisdaily.comRupiah - www.medanbisnisdaily.com

Jakarta dibuka melemah sebesar 17,5 poin ke posisi Rp15.025 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (8/5). Kemudian, lanjut bergerak melemah 30 poin atau 0,20 persen menjadi Rp15.025/USD. Sebelumnya, Rabu (6/5) sore, Garuda berakhir terapresiasi 0,56 persen ke level Rp14.995 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,3 persen jadi 99,884, di bawah level tertinggi 2 pekan yang dicapai pada awal sesi 100,40.

Penurunan USD ini diperkirakan terjadi karena melakukan aksi profit taking menjelang penggajian (payrolls) non-pertanian AS April 2020 yang dapat menunjukkan data PHK besar-besaran di tengah pandemi corona (Covid-19).

“Menurut saya, ini adalah kasus pengambilan untung atas kinerja dolar minggu ini jelang laporan pekerjaan besok. Kami hanya dalam ketenangan, dan ini saat yang tepat untuk mengambil keuntungan dari apa yang diperkirakan menjadi laporan pekerjaan yang buruk secara historis,” ujar Joe Manimbo, analis senior di Western Union Business Solutions di Washington, seperti dilansir Antara.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters, Amerika Serikat diperkirakan sudah kehilangan sekitar 22 juta pekerjaan pada bulan lalu, dengan tingkat pengangguran 16 persen. Pada Kamis (7/5), data menunjukkan jutaan lebih banyak orang AS mengambil bantuan pengangguran dari pemerintah dalam pekan terakhir.

Klaim pengangguran mingguan AS mencapai angka 3,169 juta yang telah disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 2 Mei 2020. Angka tersebut turun dari angka direvisi 3,846 juta pada pekan sebelumnya. Menurut survei Reuters, ekonom memprediksi 3,0 juta klaim pengangguran dalam minggu terakhir.

Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana memprediksi, hari ini rupiah akan mengalami kondisi yang tak jauh berbeda dari perdagangan Rabu lalu. “Apakah menguat atau melemah baru akan terlihat dari bagaimana pergerakan USD index. Selain itu, minyak dunia nanti malam juga punya pengaruh terhadap pergerakan rupiah,” ungkap Fikri, seperti dikutip dari Kontan.

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf menambahkan, pulihnya harga minyak bakal mendorong investor untuk kembali melirik aset berisiko. “Namun, jika ada perkembangan terbaru dari hubungan AS-China yang makin memanas, kemungkinan akan membuat pergerakan rupiah flat. Jadi meski menguat, namun penguatannya mungkin akan terbatas,” bebernya.

Loading...