Data Pengangguran AS Meningkat, Rupiah Dibuka Menguat ke Level Rp14.875/USD

Rupiah - Jitunews.comRupiah - Jitunews.com

Jakarta dibuka menguat sebesar 10 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp14.875 per dolar AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (15/5). Kemarin, Kamis (14/5), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 20 poin atau 0,13 persen ke level Rp14.855 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melambung ke level tertinggi dalam 3 pekan. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,20 persen ke angka 100,37 lantaran para mengabaikan sekitar 3 juta klaim pengangguran baru Amerika Serikat, bukti gelombang kedua PHK akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Pada Kamis (14/5), Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim pengangguran mingguan, yang paling tepat waktu tentang , mendukung anggapan bahwa akan butuh waktu agar aktivitas dapat pulih meski di banyak bagian dibuka kembali setelah ditutup pada pertengahan Maret 2020 lalu.

“Dolar mengabaikan klaim pengangguran yang lebih tinggi dari perkiraan, dan deflasi perdagangan, meskipun Wall Street turun, sebelum kemudian berbalik lebih tinggi. Fundamental ekonomi masih suram di kedua sisi Atlantik, dengan terus melihat melalui data. Gambaran besar, pasangan ini tetap berada dalam rentang perdagangan baru-baru ini, dan sampai pandangan yang lebih jelas tentang pembukaan kembali ekonomi, lebih banyak hal yang sama diantisipasi,” tulis analis di Action Economics, seperti dilansir dari Reuters melalui Antara.

Menurut Analis Monex Investindo Futures Faisyal, rupiah berpeluang untuk kembali melemah pada perdagangan hari ini. “Kalau data tersebut bisa lebih rendah, ini akan membuat kinerja dolar AS semakin solid. Selain itu, perkembangan virus corona secara juga masih akan jadi perhatian sehingga menambah peluang rupiah untuk melemah,” ujar Faisyal, seperti dilansir Kontan.

Sementara itu, Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana menuturkan bahwa rupiah berpeluang melemah meski rupiah sedang ada dalam tren stabil. Sayangnya, sentimen domestik pada perdagangan hari ini disebut cenderung menekan kinerja rupiah. “Data korban pandemi dari dalam negeri, data net buy, dan kepemilikan asing di pasar keuangan dalam negeri akan menjadi perhatian. Jika jumlah data tersebut cukup signifikan, maka berpeluang menekan kinerja rupiah,” tutup Fikri.

Loading...