Dolar AS Menguat Pasca Pidato Powell, Rupiah Kembali Keok di Pembukaan

Mata uang rupiah - www.medcom.idMata uang rupiah - www.medcom.id

Jakarta rupiah mengawali pagi hari ini, Kamis (14/5), dengan pelemahan sebesar 28 poin ke posisi Rp14.893 per . Kemudian, rupiah lanjut melemah 30,5 poin atau 0,21 persen menjadi Rp14.895,5/USD. Kemarin, Rabu (13/5), kurs Garuda berakhir terapresiasi 40 poin atau 0,27 persen ke level Rp14.865 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur gerak the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,31 persen menjadi 100,2479 lantaran untuk mata uang safe haven mengalami peningkatan usai Ketua Federal Reserve Jerome Powell memperingatkan resesi berkepanjangan di tengah pandemi -19.

Pada Rabu (13/5), Powell menyatakan krisis corona dapat meningkatkan kekhawatiran jangka panjang. Selain itu, ia memperingatkan bahwa resesi berkepanjangan dan pemulihan yang lemah bisa menyebabkan periode panjang pertumbuhan produktivitas yang rendah dan pendapatan yang stagnan.

“Walaupun respons telah baik, tepat waktu dan cukup besar, itu mungkin bukan bab terakhir, mengingat bahwa jalan di depan keduanya sangat tidak pasti dan tunduk pada risiko penurunan yang signifikan,” jelas Powell, seperti dilansir Antara.

Powell pun menolak gagasan untuk memakai negatif sebagai alat stimulatif, bahkan saat ia mengetahui kemungkinan pertumbuhan ekonomi yang suram. Pemulihan ekonomi mungkin membutuhkan waktu, tergantung dari kemajuan dalam menanggulangi pandemi corona.

Menurut Analis Asia Valbury Futures Lukman Leong, dengan masih berlanjutnya sentimen , maka rupiah berpotensi untuk kembali melanjutkan penguatannya di pasar spot. Hal tersebut dikarenakan risk appetite investor yang cukup baik seiring dengan optimisme akan meredanya persebaran virus corona (Covid-19) di sejumlah negara.

“Sejauh ini belum terlihat sentimen yang mungkin menghambat laju positif aset berisiko seperti rupiah. Sementara dari segi teknikal rupiah juga masih menunjukkan indikasi penguatan,” ungkap Lukman, seperti dikutip dari Kontan.

Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri menilai, laju positif rupiah masih akan terus berlanjut. Hal tersebut seiring dengan rupiah yang kini masih undervalue dan USD yang sulit keluar dari tren negatif. “Dari dalam negeri, data trade balance kami prediksi masih akan surplus sehingga ini bisa jadi katalis positif bagi rupiah. Dari AS akan ada rilis data retail sales dan indeks produksi industri yang diproyeksikan negatif dan jika ternyata lebih rendah dari ekspektasi, akan menjadi pendorong penguatan rupiah,” bebernya.

Loading...