Rupiah Rebound Meski Kekhawatiran Akan Covid-19 Meningkat

Rupiah - swarasemar.comRupiah - swarasemar.com

Jakarta rupiah dibuka menguat sebesar 47,5 poin ke posisi Rp16.202,5 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (9/4). Lalu rupiah lanjut merangkak naik 43,5 poin atau 0,27 persen jadi Rp16.206,5 per USD. Kemarin, Rabu (8/4), Garuda berakhir terdepresiasi 50 poin atau 0,31 persen ke level Rp16.250 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,21 persen jadi 100,1148 lantaran selera risiko investor berkurang di tengah kekhawatiran baru terhadap pandemi (Covid-19).

Sejumlah optimisme bahwa krisis virus corona mungkin mendekati puncaknya telah memudar dan mengakibatkan kekhawatiran pasar terhadap dampak dari pandemi tersebut tetap bertahan. “Optimisme telah mereda. Ketidakpastian akan tetap menjadi bagian dari kehidupan kita selama dua bulan ke depan,” ungkap Juan Perez, pedagang mata uang senior di Tempus Inc di Washington seperti dilansir Reuters melalui Antara.

“Benar-benar tidak ada jawaban mendasar untuk pertanyaan penting dan itu adalah: Apakah kita cukup menguji? Dan jawabannya adalah tidak. Jadi Anda tidak akan mendapatkan banyak konsistensi saat ini,” imbuh Perez.

Amerika Serikat memperingatkan warga AS untuk memperkirakan kematian akibat virus corona yang cukup mengkhawatirkan pada pekan ini, bahkan saat Rabu (8/4) dilaporkan bahwa angka kematian pandemi AS berkurang sebesar 26 persen jadi 60.000.

Menurut Analis HFX Berjangka Ady Pangestu, rupiah kemarin melemah karena kekhawatiran pelaku pasar masih belum hilang sepenuhnya. Oleh sebab itu, investor mengalihkan hartanya ke aset save haven walaupun jumlah korban terinfeksi virus corona di Spanyol dan Italia sudah menurun.

Di sisi lain, dolar AS ditunjang oleh program swap lines yang telah membuat kebijakan The Fed bisa diterapkan oleh bank sentral untuk memperoleh dolar AS tanpa harus menjual US treasury yang dimiliki. Hal ini dilakukan sebagai langkah menjaga likuiditas dalam mata uang yang tersedia dan menjaga pasar keuangan selama krisis. “Upaya itu yang kembali meyakinkan bank dan pelaku pasar bahwa aman untuk berdagang dalam mata uang dolar AS,” jelas Ady, seperti dikutip Kontan.

Loading...