Dolar AS Menguat, Rupiah Kembali Terhempas ke Zona Merah

Rupiah - www.kabarin.coRupiah - www.kabarin.co

Jakarta – Kurs mengawali di awal pagi hari ini, Rabu (8/1), dengan pelemahan sebesar 37 poin ke posisi Rp13.915 per . Sebelumnya, Selasa (7/1), Garuda berakhir terapresiasi 66 poin atau 0,47 persen ke level Rp13.878 per USD.

Sementara itu, indeks AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks AS dilaporkan naik 0,35 persen menjadi 97,0047 lantaran kekhawatiran investor terhadap ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda.

Seperti diketahui, tewasnya Mayor Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Pengawal Revolusi Iran Quds, dalam serangan udara AS di Baghdad pada Jumat (3/1) lalu telah membuat ketegangan semakin memanas di wilayah tersebut. Usai adanya serangan itu, kurs dolar AS seketika melemah serta mengakibatkan para pelaku mengamankan hartanya ke mata uang tradisional safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss.

Di sisi lain, Institute for Supply Management pada Selasa (7/1) melaporkan bahwa indeks non-manufaktur AS naik jadi 55 persen pada Desember 2019 dari data November 2019 sebesar 53,9 persen. Level melampaui 55 persen tersebut dipandang sebagai suatu hal yang untuk perekonomian Amerika Serikat.

Rupiah sendiri saat ini bergantung pada sentimen konflik geopolitik yang terjadi antara AS dengan Iran. Menurut Presiden Commissioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo, apabila hubungan AS dan Iran memanas dan konflik berlanjut sampai terjadi perang, maka akan memengaruhi pasar global serta berpotensi membuat pasar saham anjlok. “Para investor akan lari ke instrumen safe haven seperti USD dan emas. Saat itu terjadi, otomatis rupiah kita akan melemah dan USD menguat,” kata Sutopo, seperti dilansir Kontan.

Kondisi lain yang juga menjadi faktor penggerak rupiah adalah pertumbuhan Indonesia yang diperkirakan masih ada di kisaran 5,1 persen. Tingkat inflasi pun diprediksi masih terkendali dan stabil pada kisaran 3,2 persen. Pasar pun terus mencermati adanya ruang untuk (BI) kembali memangkas suku bunga acuannya pada tahun ini. “Jika faktor di atas sesuai prediksi, maka pergerakan rupiah kita akan terus menguat,” tuturnya.

Loading...