Meski Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi, Rupiah Masih Betah di Zona Hijau

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Jakarta rupiah dibuka menguat sebesar 0,11 persen atau 14,5 poin ke level Rp13.620 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (7/2). Kemarin, Kamis (6/2), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 55 poin atau 0,41 persen ke posisi Rp13.635 per .

Indeks yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat ke level tertinggi 4 bulan terhadap euro dan tertinggi 2 minggu terhadap yen. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks melonjak ke angka 98,572, level tertinggi sejak pertengahan Oktober. Penguatan USD ini didorong oleh terbaru Amerika Serikat yang serta meredanya kekhawatiran virus corona di China.

“Data AS sebagian besar tidak mengerikan. Dan sepertinya virus akan teratasi dan hanya masalah waktu. Jadi sampai data bukti bahwa virus memiliki dampak merusak pada perekonomian, akan terus fokus pada laba yang relatif baik, serta data AS yang kuat,” papar Kathy Lien, direktur pelaksana BK Asset Management di New York, seperti dilansir Antara.

Menurut laporan Xinhua, Presiden China Xi Jinping menyatakan pada Raja Arab Saudi Salman bahwa China mencapai hasil positif dalam upaya pencegahan dan pengendalian virus corona baru. Hal ini yang meningkatkan optimisme di pasar. Selain itu, Bank sentral China, People’s Bank of China (PBoC) juga sudah mengalirkan ratusan miliar dolar dalam sistem keuangan pekan ini guna meredam dampak ekonomi yang merugikan akibat corona.

Pada akhir pekan ini, rupiah pun diprediksi masih akan melanjutkan penguatannya setelah empat hari berturut-turut betah di zona hijau. Salah satu sentimen yang mendukung rupiah adalah perkembangan penemuan vaksin virus corona yang juga berhasil menenangkan pasar. Menurut Analis Monex Investindo Futures Faisyal, sentimen itu masih akan memengaruhi rupiah hari ini. “Selain perkembangan virus corona, pasar juga menanti langkah-langkah AS setelah China memutuskan untuk melaksanakan kesepakatan perjanjian dagang fase pertama,” ujar Faisyal, seperti dilansir Kontan.

Sedangkan ekonom Bank BCA David Sumual mengatakan, data klaim pengangguran AS juga akan memengaruhi gerak rupiah. Apabila data menunjukkan adanya kenaikan jumlah pengangguran di AS, maka akan ada ekspektasi suku bunga yang turun. Apabila turun, rupiah yang justru diuntungkan. Demikian pula sebaliknya. “Kalau dari dalam negeri data cadangan devisa bisa jadi sentimen positif. Diperkirakan cadev pada Januari naik sebanyak US$23 miliar,” ucap David.

Loading...