Kurs Rupiah Berhasil Rebound Berkat Ekspektasi Pemulihan Ekonomi

Rupiah - www.viva.co.idRupiah - www.viva.co.id

Jakarta – Rupiah dibuka menguat sebesar 20 poin atau 0,14 persen ke level Rp14.075 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (5/6). Kemarin, Kamis (4/6), mata uang Garuda berakhir stagnan di posisi Rp14.095 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, kurs dolar AS dilaporkan turun 0,67 persen jadi 97,675 di tengah penguatan euro usai Eropa (ECB) meningkatkan stimulus untuk membangkitkan ekonomi yang terdampak oleh pandemi (Covid-19).

Dolar AS sudah mengalami pelemahan selama 2 pekan terakhir lantaran sentimen risiko meningkat dan saham-saham melonjak didukung oleh optimisme bahwa krisis ekonomi terburuk dari Covid-19 sudah berlalu. Meski demikian, reli saham sepertinya kehabisan tenaga pada Kamis (4/6) dengan perdagangan Wall Street lebih rendah jelang ketenagakerjaan pada Jumat.

Pada Kamis (4/6), data Amerika Serikat menunjukkan bahwa jumlah warga AS yang mengajukan tunjangan pengangguran turun di bawah 2 juta pekan lalu untuk pertama kalinya sejak pertengahan Maret 2020, namun tetap cukup tinggi lantaran perusahaan menyesuaikan diri dengan kondisi yang banyak mengalami perubahan sejak adanya pandemi.

Menurut para ekonom, gerak rupiah hari ini akan bergantung pada data tenaga kerja AS. Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail Zaini berpendapat, rupiah bergerak naik lantaran risk appetite mulai kembali muncul. “Investor global mulai berani masuk ke aset berisiko karena membandingkan Indonesia bisa lebih baik dari AS setelah pandemi,” ujar Mikail, seperti dilansir Kontan.

Sementara itu, Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengungkapkan, nilai tukar rupiah sempat terkoreksi lantaran investor kembali memburu dolar AS di tengah konflik antara AS dengan . Meski demikian, rupiah dapat menahan pelemahan karena didukung oleh harapan adanya pemulihan ekonomi global dan lokal. “Meski Jakarta masih transisi sebelum PSBB dilonggarkan, pelemahan rupiah tidak terlalu dalam karena kegiatan ekonomi akan kembali bergerak,” tandas Faisyal.

Loading...