Aksi Profit Taking, Kurs Rupiah Bertahan di Zona Hijau

Rupiah - www.merdeka.comRupiah - www.merdeka.com

Jakarta – Kurs dibuka menguat sebesar 10 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp14.095 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (5/12). Kemarin, Rabu (4/12), Garuda berakhir terapresiasi 10 poin atau 0,07 persen ke level Rp14.105 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,09 persen menjadi 97,6465 lantaran para tengah mempertimbangkan sejumlah data utama Amerika Serikat yang baru saja dirilis.

Pada Rabu (4/12), lembaga riset Institute for Supply Management (ISM) melaporkan bahwa sektor non-manufaktur Amerika Serikat pada November 2019 mengalami ekspansi dengan kecepatan yang lebih lambat dari bulan sebelumnya, demikian seperti dilansir Antara.

Indeks non-manufaktur (NMI) yang mengukur kinerja sektor berada di angka 53,9 persen pada November 2019, atau 0,8 poin persentase lebih rendah dari data Oktober 2019, menurut Bisnis Non Manufaktur ISM. Adapun angka di atas 50 persen mengindikasikan bahwa sektor non-manufaktur umumnya berkembang.

NMI September 2019 sebesar 52,6 persen merupakan level terendah dari Agustus 2016 saat NMI berada di posisi 51,8 persen. “Sektor non-manufaktur mengalami sedikit penurunan pada bulan November,” ungkap Anthony Nieves, ketua komite survei bisnis non-manufaktur ISM.

Nieves menambahkan, para responden mengharapkan resolusi terkait dan terus terhambat oleh kendala dalam sumber daya tenaga kerja. “Hubungan masa lalu antara NMI dan ekonomi secara keseluruhan menunjukkan bahwa NMI untuk November (53,9 persen) sesuai dengan peningkatan 1,9 persen dalam domestik bruto riil secara tahunan,” paparnya.

Sementara itu, indeks pembelian manajer yang mengukur kinerja sektor manufaktur berada di angka 48,1 persen pada November. Angka tersebut menunjukkan kontraksi kegiatan manufaktur AS selama empat bulan berturut-turut.

Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri berpendapat bahwa rupiah menguat terkena imbas aksi profit taking usai beberapa hari berturut-turut rupiah melemah. Namun pada hari ini, Reny memprediksi rupiah akan bergerak cenderung sideways. “Dari dalam negeri belum ada sentimen positif yang mendorong penguatan rupiah, sementara nanti (tadi) malam banyak data ekonomi AS akan keluar,” katanya, seperti dilansir Kontan.

Loading...