Terimbas Profit Taking, Rupiah Melorot di Awal Perdagangan

Rupiah - faktualnews.coRupiah - faktualnews.co

Jakarta dibuka melemah sebesar 10 poin atau 0,07 persen ke Rp14.105 per dolar AS di awal pagi hari ini, Kamis (4/6). Kemarin, Rabu (3/6), kurs mata uang Garuda berakhir terapresiasi 320 poin atau 2,22 persen ke level Rp14.095 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur gerak the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS anjlok 0,32 persen jadi 97,26 dan sempat terperosok ke level 97,18, angka terendah sejak 12 Maret 2020. Penurunan USD ini terjadi di tengah optimisme bahwa penurunan ekonomi terburuk akibat penyebaran telah berakhir.

Minat terhadap aset-aset berisiko yang mengalami peningkatan saat ini telah mengurangi permintaan terhadap dolar AS, yang diuntungkan dari pembelian safe haven saat pasar bergejolak dan enggan mengambil risiko.

“Momentum sepertinya sedang membaik sekarang. Kami pikir kemunduran luas dalam dolar AS menyajikan peluang pembelian yang menarik, tetapi mengakui mungkin masih ada ruang untuk pelemahan tambahan dalam waktu dekat,” ujar analis di Wells Fargo, seperti dilansir Antara.

Data Amerika Serikat pada Rabu (3/6) menunjukkan bahwa penggajian atau payroll sektor swasta AS telah turun lebih sedikit dari perkiraan bulan Mei. Hal ini menunjukkan bahwa PHK mulai reda seiring dengan kegiatan bisnis yang kembali dibuka, meski pemulihan ekonomi secara keseluruhan akibat pandemi (Covid-19) akan lambat. Aktivitas industri jasa-jasa AS pun bangkit dari level terendah 11 tahun pada Mei.

Sementara itu, menurut Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana, rupiah hari ini kemungkinan akan melemah. Pasalnya, penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir sudah terlampau kuat. “Oleh sebab itu pada perdagangan besok rupiah kemungkinan akan diwarnai aksi profit taking. Dengan demikian bisa saja rupiah akan terdepresiasi tipis,” jelas Fikri, seperti dikutip Kontan.

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf pun sependapat. Potensi rupiah untuk terkoreksi ini terjadi, karena di balik optimisme investor terhadap kegiatan ekonomi yang kembali bergulir, kekhawatiran terhadap kondisi di AS masih menghantui.

“Pada Kamis (4/6) kemungkinan sentimen optimisme masih akan mewarnai perdagangan, tetapi jika ketegangan di AS, baik terkait demonstrasi besar-besaran maupun antara -AS memanas, aset berisiko akan terancam terkoreksi,” beber Alwi.

Loading...