Data Manufaktur AS Suram, Rupiah Lanjut Menguat di Awal Dagang

Rupiah - www.lintasgayo.comRupiah - www.lintasgayo.com

Jakarta rupiah mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (4/12), dengan penguatan sebesar 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp14.110 per AS. Sebelumnya, Selasa (3/12), kurs Garuda berakhir terapresiasi 10 poin atau 0,07 persen ke angka Rp14.115 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS melemah 0,12 persen jadi 97,7379 lantaran selera para pelaku terhadap aset-aset berisiko mulai berkurang. Dolar AS sendiri mulai tak bertenaga di tengah ketidakpastian perdagangan dan data Amerika Serikat yang kurang memuaskan.

Menurut laporan yang dirilis oleh lembaga riset Institute for Supply Management (ISM) pada Senin (2/12), dolar AS tertekan oleh data AS yang terus mengalami penurunan pada bulan lalu di tengah data persediaan dan pesanan baru yang lemah. Berdasarkan laporan tersebut, indeks pembelian manajer (PMI) sektor Amerika Serikat turun jadi 48,1 persen pada November setelah berada di level 48,3 persen pada Oktober.

Sementara itu, menurut para ekonom yang disurvei oleh MarketWatch, memperkirakan bahwa indeks PMI manufaktur AS akan berada di level 49,2 persen. Adapun angka di bawah 50 persen sendiri mewakili kontraksi.

Analis PT Monex Investindo Future Faisyal berpendapat bahwa penguatan rupiah ditunjang oleh rilis data manufaktur Amerika Serikat yang rupanya tak sebaik perkiraan pasar. “Pertama kasus ledakan monas menurut saya memicu pelemah rupiah pada pagi hari (kemarin). Tapi akhirnya rupiah berhasil ditutup menguat (kemarin) didorong pelemahan dolar AS terutama dipicu oleh jeleknya data manufaktur AS semalam,” ungkap Faisyal, seperti dilansir Kontan.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana menambahkan jika pada hari ini nilai data inflasi yang rendah akan menjadi sentimen untuk pasar. “Dari dalam negeri, tampaknya data inflasi yang cukup rendah (2,37% ytd) akan menjadi salah satu sentimen negatif bagi pelaku pasar, karena adanya kekhawatiran beli yang menurun, dan ekonomi di kuartal IV-2019 (dan 2019 secara keseluruhan),” ujar Fikri.

Loading...