The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Asyik Melaju ke Zona Hijau

Rupiah - merahputih.comRupiah - merahputih.com

Jakarta – Kurs dibuka menguat sebesar 132,5 poin ke level Rp15.162,5 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (30/4). Kemudian, lanjut menguat 145 poin atau 0,95 persen ke Rp15.150/USD. Kemarin, Rabu (29/4), Garuda berakhir menguat signifikan sebesar 150 poin atau 0,97 persen ke posisi Rp15.295 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,32 persen jadi 99,544, namun bertahan di atas level terendah 2 pekan di angka 99,44 pada Selasa (28/4). Dolar AS anjlok usai memutuskan menahan acuan dan mengulang janji untuk melakukan apa yang diperlukan demi menopang perekonomian yang terpukul akibat (Covid-19).

“Federal Reserve berkomitmen untuk menggunakan berbagai alat guna mendukung AS di masa yang penuh tantangan ini, dengan demikian mendorong lapangan kerja maksimum dan tujuan stabilitas harga,” demikian bunyi pernyataan The Fed, seperti dilansir Antara.

Pernyataan The Fed ini dirilis usai data sebelumnya, Rabu (29/4) menunjukkan bahwa ekonomi Amerika Serikat mengalami kontraksi di kuartal pertama. Departemen Perdagangan AS melaporkan, produk domestik bruto turun ke tingkat tahunan 4,8 persen pada periode Januari ke Maret usai tumbuh ke level 2,1 persen selama 3 bulan terakhir 2019.

Rupiah sendiri kemarin menguat tajam karena tidak terlepas dari rencana negara-negara Eropa dan Amerika Serikat yang ingin melonggarkan kebijakan lockdown-nya. Rencana itu mendorong para untuk berinvestasi pada aset-aset berisiko.

Selain itu, yield di negara-negara maju sekarang juga cenderung menurun. Oleh sebab itu, investor global pun berpindah dan mencari negara dengan yield tinggi seperti Indonesia. “Begitupun dengan harga minyak yang mulai stabil juga memberikan tambahan kepercayaan bagi investor,” ujar Head of Economics Research Pefindo, Fikri C Permana, seperti dilansir Kontan.

Tak jauh berbeda, Analis Global Kapital Investama, Alwi Assegaf pun menilai, rencana pelonggaran kebijakan lockdown jadi sentimen utama yang mendorong penguatan rupiah kemarin. Dari dalam negeri, rupiah pun melesat karena didukung oleh pernyataan-pernyataan optimis dari Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang mengatakan nilai tukar rupiah kini sudah bergerak stabil dan menuju arah Rp15.000 per dolar AS di akhir tahun.

“Tren penguatan rupiah masih berpotensi terus berlanjut pada perdagangan Kamis (30/4). Sebab, investor sedang menunggu hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang diprediksi bahwa The Fed masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya,” tandasnya.

Loading...