Aliran Dana Asing Masih Deras, Kurs Rupiah Dibuka Menguat

Rupiah - Tribunnews.comRupiah - Tribunnews.com

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (3/6), dengan penguatan sebesar 182,5 poin ke level Rp14.232,5 per AS. Sebelumnya, Selasa (2/6), nilai tukar mata uang Garuda berakhir terapresiasi 1,33 persen atau 195 poin menjadi Rp14.415 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,16 persen jadi 97,6758 lantaran selera terhadap aset berisiko mengalami peningkatan di tengah harapan adanya pemulihan kondisi .

Di AS sana, protes keras atas kematian seorang pria kulit hitam di tangan petugas penegak hukum terus berlanjut. Bahkan saat Presiden AS Donald Trump berjanji untuk mengerahkan guna membubarkan aksi para demonstran.

“Jika kekerasan berlanjut, ini dapat memperburuk dampak pada bisnis. Banyak toko akan tutup; akan ada jam malam; orang-orang tidak akan bisa berbelanja dan itu akan lebih merusak perekonomian,” ujar Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities di New York, seperti dikutip dari Antara.

Namun, tanda-tanda rebound ekonomi dipicu sebagian oleh paket-paket stimulus besar-besaran dari Capitol Hill dan Federal Reserve berhasil membantu meningkatkan optimisme pasar. Pasar kini tengah menanti laporan pekerjaan pada Jumat (5/6) dari Departemen Tenaga Kerja AS untuk memperoleh gambaran lebih jelas terkait tingkat kerusakan ekonomi akibat lockdown.

Dari dalam negeri, Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri berpendapat bahwa rupiah memiliki potensi untuk kembali menguat pada perdagangan Rabu (3/6). Menurut Reny, sentimen domestik terkait aliran dana asing yang masuk kemungkinan besar masih akan memengaruhi gerak rupiah di perdagangan hari ini.

“Sementara dari eksternal, kemungkinan besar pelaku pasar masih akan cenderung menjauhi dolar AS seiring adanya kerusuhan di AS. Namun besar kemungkinan, penguatannya masih akan cenderung terbatas,” kata Reny, seperti dilansir Kontan.

Tak jauh berbeda, analis Valbury Asia Futures Lukman Leong mengungkapkan bahwa rupiah kemungkinan besar akan bergerak menguat terbatas. Lukman menilai, sentimen ketegangan antara Amerika Serikat dengan terkait Hong Kong masih menyebabkan kekhawatiran di kalangan para investor. “Jika eskalasi semakin memanas, pelaku pasar akan segera menjauhi aset berisiko dan ini berpotensi menekan pergerakan rupiah,” terang Lukman.

Loading...