Corona Masih Jadi Ancaman Utama, Rupiah Belum Mampu Bangkit dari Zona Merah

Rupiah - www.republika.co.idRupiah - www.republika.co.id

Jakarta – Nilai tukar mata uang Garuda mengawali pagi hari ini, Jumat (28/2), dengan pelemahan sebesar 35 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp14.060 per dolar . Sebelumnya, Kamis (27/2), berakhir terkoreksi cukup dalam sebesar 85 poin atau 0,61 persen ke level Rp14.025 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun sebesar 0,658 persen ke level 98,463 usai jatuh ke level terlemah sejak 6 Februari. USD jatuh lantaran memperkirakan bakal memangkas acuan untuk mengimbangi dampak penyebaran corona, sehingga mendukung laju kenaikan harian euro terbesar sejak Mei 2018.

Berdasarkan alat FedWatch CME Group, ekspektasi pedagang terhadap penurunan suku bunga pada Maret 2020 naik jadi 54,3 persen berbanding 33,2 persen pada Rabu (26/2). Harapan terkait pemangkasan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) pun mengalami peningkatan. “Kami melihat pembalikan besar dari nasib dolar,” ujar Wakil Presiden Bidang Perdagangan Tempus Inc, John Doyle, seperti dilansir Antara.

Apabila suku bunga AS jauh lebih tinggi dibanding rekan-rekan G10, maka ruang lingkup mereka jatuh jauh lebih luas dan membuat investor membalikkan dolar AS. “Ekspektasi penurunan suku bunga telah mendapatkan momentum dan ekspektasi suku bunga AS turun jauh lebih banyak daripada di zona euro. Apakah dolar mundur lebih lanjut tergantung pada data tentang dampak virus corona pada kepercayaan dan perdagangan di luar China,” ujar Thu Lan Nguyen, seorang analis di Commerzbank.

Analis Kapital Global Investama Alwi Assegaf mengungkapkan jika hari ini rupiah kemungkinan masih akan melanjutkan pelemahannya, seiring dengan penyebaran virus corona yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. “Memang masih cenderung melemah. Namun, pelemahan rupiah ini kemungkinan bisa diredam asalkan BI bertindak untuk menstabilkan nilai tukar dengan melakukan intervensi,” ujar Alwi, seperti dikutip dari Kontan.

Sedangkan Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana justru punya pendapat berbeda. Fikri menilai, rupiah berpotensi untuk pada perdagangan hari ini. “Virus corona masih akan menjadi sentimen penekan, namun faktor utama penguatan berasal dari pergerakan indeks dolar yang sudah mulai tertahan. Hal ini seiring dengan risiko di perekonomian AS sendiri,” tandas Fikri.

Loading...