Rebound, Rupiah Pagi Ini Bertengger di Posisi Rp14.048/USD

Rupiah - investasi.kontan.co.idRupiah - investasi.kontan.co.id

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Jumat (25/10), dengan penguatan sebesar 11 poin ke level Rp14.048 per AS. Sebelumnya, Kamis (24/10), nilai tukar mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 27 poin atau 0,19 persen ke posisi Rp14.059 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, dolar AS dilaporkan naik 0,14 persen menjadi 97,6350 di tengah melemahnya pound sterling seiring dengan ketidakpastian .

Pound sterling melemah usai Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyerukan pemilihan umum awal. Pada Kamis (24/10), Johnson mengungkapkan bahwa ia akan memberi parlemen lebih banyak waktu untuk mendiskusikan kesepakatan Brexit baru yang ia capai dengan Uni Eropa selama mereka menyetujui pemilihan umum pada tanggal 12 Desember 2019 mendatang.

Sementara itu, kemarin berdasarkan Rapat Dewan Gubernur (RDG), Bank Indonesia (BI) akhirnya memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Menurut Ekonom Pefindo Fikri C. Permana, dampak penurunan suku bunga tersebut lebih mendorong sektor dan dalam negeri. Ia justru memperkirakan bahwa rupiah akan melemah dalam jangka pendek dan menengah.

Fikri menjelaskan, terdapat kemungkinan penurunan yield SUN dan sejumlah suku bunga lainnya, sehingga dapat mempengaruhi minat asing. “Kemungkinan ketertarikan asing terhadap aset-aset Indonesia relatif akan lebih rendah dibanding sebelumnya,” beber Fikri, seperti dilansir Kontan.

Di samping itu, Fikri berpendapat bahwa tekanan tersebut juga semakin bertambah dengan data-data ekonomi yang kurang sesuai dengan ekspektasi. Misalnya saja angka inflasi, cadangan devisa, dan defisit transaksi berjalan. “Masih ada tren terdepresiasi baik jangka panjang dan pendek, terlebih bila nantinya data tidak sesuai perkiraan,” tutur Fikri.

Lebih lanjut Fikri menuturkan bahwa peluang penurunan suku bunga acuan baru akan terjadi lagi pada tahun depan. Pasalnya, kondisi saat ini menyebabkan penurunan suku bunga sudah dianggap cukup. “Ini karena adanya kemungkinan resesi dan neraca dagang yang dinilai masih negatif seiring dengan CAD yang mungkin untuk meningkat,” tutupnya.

Loading...