Dolar AS Rebound Tipis, Rupiah Lagi-lagi Tergelincir di Pembukaan

Rupiah - www.beritasatu.comRupiah - www.beritasatu.com

Jakarta – Kurs dibuka melemah sebesar 73,5 poin atau 0,48 persen ke posisi Rp15.523,5 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (23/4). Kemarin, Rabu (22/4), Garuda berakhir terapresiasi 18 poin atau 0,12 persen ke level Rp15.450 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik tipis sebesar 0,19 persen ke angka 100,39. Indeks dolar AS mencapai level tertinggi 2 pekan di posisi 100,50 pada awal sesi perdagangan.

Adapun minyak mentah Brent berhasil rebound dari kerugian dua hari berturut-turut dan minyak berjangka Amerika Serikat naik pada Rabu (22/4) berkat perbincangan tentatif dari pengurangan pasokan tambahan dari produsen OPEC dan penambahan persediaan AS kurang mengerikan dari prediksi, demikian seperti dilansir Antara.

“Fokusnya benar-benar pada dua hal: apa yang dilakukan para politisi dan pemerintah terkait dengan virus, dan yang lebih penting orang-orang berbicara tentang penguncian dan pembukaan kembali oleh negara-negara bagian,” ucap Anderson.

Di sisi lain, Dewan Perwakilan AS akan mengesahkan RUU virus corona terbaru Kongres pada Kamis, ujar Ketua DPR Nancy Pelosi. Hal ini sekaligus membuka jalan bagi bantuan dengan nilai hampir sebesar 500 miliar dolar AS lebih di tengah pandemi Covid-19.

Menurut Analis Valbury Futures Lukman Leong, penguatan rupiah kemarin tak terlalu signifikan dan para kini cenderung bersikap wait and see. “Risk appetite kadang muncul kadang hilang, market masih wait and see dan semua dan pergerakan sentimen belum terlalu solid,” ujar Lukman, seperti dikutip Kontan.

Tak jauh berbeda, Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail Zaini berpendapat rupiah naik lantaran minat investor pada obligasi telah mulai naik berkat penerbitan global bond. Ia juga menilai bahwa (BI) mampu menjaga rupiah untuk semakin menguat. “Penguatan rupiah karena peran intervensi BI dalam menjaga level rupiah saat ini,” jelasnya.

Sedangkan turunnya harga minyak dinilai dapat memicu menambah likuiditas dan melakukan currency swap. Dengan demikian, rupiah diprediksi akan bergerak cenderung sideways.

Loading...